Romansa

Musim Paceklik Yang Mencekik (Anita 4)

Fiksi, Cerber, Novel, Anita, Headline
Rutinitas dan tarikan nafas adalah perjodohan sempurna dalam hidup. Raka tidak boleh jatuh bosan oleh keduanya, sebab di sinilah inti rasa syukur itu.

Cerber: Pepih Nugraha

Belajar mengubur ingatan akan masa lalu yang indah tidaklah semudah menanam tubuh manusia ke dalam bumi. Raka harus melupakan masa lalu dan mengerjakan apa yang ia kerjakan hari ini, seiring tarikan nafasnya. Rutinitas adalah tarikan nafas itu sendiri, tidak mungkin jatuh bosan untuk kedua hal itu.

Bersyukur atas kebaikan Sang Khalik adalah pelabuhan terakhir aktivitasnya. Maka di tengah hutan yang lebat, diiringi nyanyian gagak dan murai, selagi ada batu datar untuk salat, di sanalah Raka biasa berserah sekaligus bersyukr.   

Salah satu upaya membunuh masa lalu ialah menenggelamkan diri dalam rutinitasnya sehari-hari yang nyaris tanpa perubahan berarti; pagi memanjat pohon enau, menyadap nira, memasak air nira menjadi gula, menjual gula ke pasar, mendagangkan air nira yang manis di pinggir jalan raya, dan memancing ikan liar di sungai. Demikianlah Raka.

Raka tahu persis, hanya waktu yang bisa mengatasi kenangan akan masa lalunya. Ia juga paham, belajar bisa berhasil atau sebaliknya; gagal. Hidup adalah pilihan antara berhasil atau gagal, tetapi ia jalan yang harus ditempuh. Belajar adalah kehidupan itu sendiri. Raka belajar hidup dan kehidupan dari mendiang bapaknya. Sang bapak tidak pernah mengajarinya langsung, tetapi cukup mengajak Raka kecil menceburkan diri dalam danau kehidupan senyatanya. Belajar dengan mendengar dan terutama melihat.

Raka belajar melihat dan kemudian mengikuti bapaknya memanjat dengan kerampilan seekor monyet. Raka kecil menjadi paham bagaimana bertahan dan tidak panik atas serangan semut rangrang tatkala sudah berada di puncak pohon enau.

“Semut Rangrang marah karena merasa tempat tinggalnya terganggu. Kau tak perlu membunuhnya, singkirkan saja dengan tanganmu,” kata almarhum Sobari pada Raka kecil. “Kalau menggigit, itu adalah cara mereka menunjukkan harga diri.”

Pohon enau yang tunggal dan menjulang tinggi ke langit adalah kawah candradimuka kehidupan senyatanya. Pohon yang tidak bercabang, sehingga tidak memungkinkan ia menggapai cabang atau ranting untuk pertolongan tatkala jatuh dari ketinggian yang bahkan sulit dibayangkan dalam imaji liar sekalipun.

“Menaklukan pohon enau sama saja dengan menaklukan seribu jenis pohon yang tumbuh di bumi ini, Raka,” suatu waktu almarhum Sobari berkata pada anaknya. “Kelak kau akan sangat mahir ketika harus memanjat pohon yang beranting dan bercabang, sebab kau terbiasa memanjat pohon yang tidak semua orang mampu menaklukannya!”

“Tetapi setelah mahir menaklukan pohon yang sulit orang-orang taklukkan,” Raka kecil bertanya hal ini kepada bapaknya, “Pohon apa lagi yang harus kutaklukkan, Pak?”

“Jangan pernah mencari-cari musuh! Jadilah kau orang yang sangat mahir memanjat pohon enau, itu saja! Semua orang akan tahu kemampuanmu itu dan mereka akan mencarimu, tidak mencari orang lain,” balas Sobari mengajari anaknya alifbata kehidupan.

Kemampuan yang diturunkan alam itu ada pada diri Sobari. Badannya padat berisi, meski tidak bisa dibilang kekar. Kaki-kakinya seperti terbuat dari kayu hitam. Telapak kakinya seperti berselaput semen keras dengan celah-celah yang terbelah. Jari-jari kakinya melebar, terutama kedua ibu jari kakinya yang meregang ke samping. Ini karena jari ibu jari kaki dijadikan tumpuan terberat saat memanjat. Bisa dipastikan, kedua kaki itu tidak bisa dimasukkan ke dalam sepatu dengan ukuran apapun.

Alam menuntunnya dengan bijak, sebab dengan cara ini Sobari tidak perlu bersepatu sepanjang hidupnya. Bahkan kulitnya yang keras tidak bisa ditembus gigitan semut rangrang atau sengatan kalajengking beracun. Tatkala semut rangrang menyerang bagian bibir matanya, Sobari cukup mengedipkan matanya dan semut rangrang kabur sebelum tubuhnya terjepit kelopak mata.

Semua kekuatan alami itu kini diwariskan Sobari kepada anaknya, Raka, meski tidak sepenuhnya. Bedanya Sobari buta huruf latin, anaknya bisa membaca huruf arab maupun latin. Tetapi semua kemampuan membaca huruf-huruf dunia itu nyaris tak berguna buat Raka. Alifbata atau Alfa-Omega kehidupan tidak semudah membaca huruf.

Membaca yang terbaik adalah menjalani kehidupan itu sendiri dengan penuh semangat untuk terus hidup. Sebab, hidup adalah anugerah terbesar yang diberikan Sang Maha Pencipta. Maka kepada Sang Maha Pencipta itulah terima kasih selalu Raka sampaikan lewat caranya sendiri.

Waktu terus berlari. Musim paceklik datang lagi di perkampungan itu. Musim yang selalu datang tiap tahun. Tetapi musim kering kali ini masuk kekecualian. Demikian dahsyat dan mencekik. Raka tak bisa lagi menjerat belut di sawah yang kering kerontang. Belut dan ikan beunteur mati terperangkap musim kering bedebah ini.

Sungai menampakkan dasarnya dan ikan lele yang biasa dipancing sibuk mencari genangan air yang lebih banyak agar tidak mati terjebak dasar sungai yang mengering. Benar kata Sobari, pohon enau itulah yang tetap menyelamatkan hidup Raka yang kini sebatang kara.

Suatu siang ketika mentari tepat berada di ubun-ubun, Raka menyusuri bibir jalan raya dengan memundak dua tabung bambu berisi air nira. Pekerjaan yang ia lakoni hampir setiap hari. Sesiang ini, belum ada tanda-tanda pengendara sepeda motor atau mobil menepikan kendaraan untuk membeli segelas-dua gelas air nira yang manis dan segar. Benar-benar paceklik. Tetapi ketika sebuah sedan mengkilat datang mendekat, Raka menyambutnya dengan semangat. Inilah rezeki, batinnya, kadang harus sabar menantinya memang.

Sedan mengkilap keluaran terbaru itu menepi ke kiri jalan di mana Raka berdiri. Dari pintu kanan depan, keluar seorang pria berkacamata hitam, kontras dengan kulitnya yang putih mengkilat. Lehernya dibebani kalung emas seperti rantai hewan. Di atas beberapa jemarinya berjejer bebatuan, mulai akik, giok, sampai berlian yang berkilatan. “Pesan dua gelas, Jang,” pinta lelaki itu.

Dua gelas? pikir Raka, tentu satu gelas lagi untuk satu orang lagi yang masih berada di dalam sedan. Kaca samping kiri mobil memang belum diturunkan. Raka mulai menuangkan air nira dari tabung, sedang gelas dipegang oleh lelaki itu. Begitulah cara Raka melayani pembeli. Perlahan-lahan dari tabung bambu itu mengalir air nira yang harum, air kehidupan. Saat yang bersamaan, perlahan-lahan pula kaca samping kiri mobil turun….

Raka terkesiap dan tak percaya pada pandangannya sendiri!

Seorang perempuan muda duduk di belakang kursi empuk mobil itu. Meski mengenakan kacamata gelap, Raka tidak pernah lupa si pemilik bibir kecil yang kini merah merekah karena olesan gincu itu. Tangannya yang sedang menuang air nira menjadi mendadak gemetar. Perempuan itu membuang muka setelah melepas senyum kecilnya yang ditujukan kepada Raka, si penjual nira. Senyum sinis, senyum dendam yang nampak seperti terlampiaskan.

Raka baru tersadar tatkala gelas yang dipegang lelaki itu sudah meleber penuh, tumpah membasahi rangkaian batu akik pria itu. Tabung bambu secepat kilat diangkat tatkala si pembeli berteriak kaget, “Hei, gelas sudah kepenuhan, Jang!”

“Oh, maaf, Pak!” Raka gelagapan sambil meraih lap dan siap mengusap air nira yang membasahi lengan dan cincin akik lelaki itu, tetapi si lelaki menolak. “Matamu jelalatan juga kalau lihat perempuan cantik,” si lelaki terkekeh, kemudian meminum air nira dengan dahaga yang menyiksa. Raka tertunduk tetapi coba menuangkan air nira di gelas lainnya. Untuk si gadis bergincu!

Setelah gelas terisi air nira, Raka menyerahkan gelas air nira itu pada perempuan yang tetap duduk di jok mobil, enggan menurunkan kaki. “Untukmu, Anita,” bisik Raka nyaris tak terdengar saat si lelaki tadi memutar mencari kertas tisu untuk membersihkan batu-batu cincinnya.

Perempuan muda itu nyaris tanpa reaksi saat menerima gelas dan menenggak air nira yang diberikan si pedagang, pun saat namanya disebut. Seperti tidak ada kejadian mengejutkan. Raka memandang air nira yang mengalir melewati kerongkongan gadis itu, leher yang transparan seakan-akan tembus pandang. Si lelaki bercincin sudah berada di balik kemudi.

Selesai menenggak air nira sampai kandas, gadis berkacamata itu menyerahkan kembali gelas bekas kepada si pedagang sambil memberinya selembar uang lima ribuan. Raka tahu, itu adalah uang penglaris untuk hari ini, tetapi ia enggan menerimanya. “Sudah, tidak usah, terima kasih…..”

Tanpa basa-basi, gadis bergincu itu melempar uang itu ke luar mobil. Kaca samping kiri perlahan-lahan naik dan sedan mulai menggelinding pergi meninggalkan tempat itu, menyisakan debu yang menyelimuti si pedagang air nira yang masih berdiri mematung.

Raka menghela nafas panjang dan mulai melangkahkan kaki. Tak ada sepotong pun niat hati untuk menghabiskan dagangan air niranya di sisa siang ini.

Siang itu Raka pulang lebih cepat.

(Bersambung)

***

Baca Juga:  Kematian Yang Sunyi (Anita 3)