Aksara

Ahmad Fuadi dan 17 Penyebab Tulisan Opini Ditolak Harian Kompas

Menulis, Opini, Artikel, Harian Kompas, Headline
Ahmad Fuadi (Foto: Kompas.com)
Rubrik opini Harian Kompas dikenal sangat sulit untuk ditembus, bahkan oleh penulis kawakan. Namun selalu ada cara untuk menembusnya. Bagaimana?

Salam Kang Pepih, ini dengan Fuadi. Saya mau bilang terima kasih karena baca blog Kang Pepih tentang “menulis opini Kompas”. Opini saya belum pernah dimuat selama ini, tapi blog itu menginspirasi. Kalau nggak ada perubahan, mbak Tati akan memuat tulisan saya pekan ini. Terima kasih untuk inspirasinya.

Demikian pesan WA dari penulis novel laris Negeri 5 Menara, Ahmad Fuadi yang saya terima dua hari lalu. Kamis, 29 September 2016 kemarin, opini berjudul “Pendidikan 24 Jam” itu dimuat di rubrik opini halaman 7 Harian Kompas. Saya membacanya sampai tuntas opini tentang 90 tahun Pondok Pesantren Gontor dan kaitannya dengan bahasan full day school yang sedang kekinian. Judulnya saja, “Pendidikan 24 Jam” sudah bercerita banyak.

Usai membaca pesan Fuadi saya malah bertanya-tanya dalam hati, blog yang mana yang dipelajari Fuadi mengenai menulis opini untuk Kompas? O, oooowww…. ternyata itu tulisan lawas, hampir satu dekade yang lalu.

Saya menemukan tulisan tips dan trik  yang dimaksud Fuadi itu di blog pertama saya bernama Beranda T4 Berbagai. Di blog gratisan yang disediakan Blogger.com itu saya menulis sekuel Apa Syarat Menulis Opini Kompas? Rupanya dari tulisan lawas inilah Fuadi mempelajari tips dan triknya sehingga akhirnya opini pertamanya bisa menembus Kompas. Boleh juga!

Tentu saja senang. Artinya, apa yang saya sharing pengalaman lewat tulisan itu tidak sia-sia. Bayangkan, sekaliber Fuadi saja sebelumnya naskahnya masih ditolak redaksi berkali-kali. Tetapi dengan tips dan trik yang saya bagikan, Fuadi dengan tipikal seorang pembelajar sejati yang rendah hati ala anak pesantren itu mau belajar sampai akhirnya berhasil.

Seingat saya, dua orang yang telah mengemukakan testimoni serupa tentang bagaimana menembus halaman opini Kompas dalam kurun waktu yang berbeda setelah membaca tutorial saya dari blog yang sama. Selain Ahmad Fuadi, satunya lagi Junanto Herdiawan, analis ekonomi Bank Indonesia.

Baca Juga:  Berkat Kehadiran Ahmad Dhani, Pilkada Kabupaten Bekasi Jadi “Seksi”

Berbeda dengan Mas Jun, demikian saya biasa memanggil, yang tulisannya sudah berkali-kali dimuat, saya bisa berempati dengan Mas Fuadi. Maksud berempati di sini merasakan kegembiraan yang juga pernah saya rasakan ketika tulisan pertama bisa nembus halaman opini Kompas.

Meski sebagai novelis nama Fuadi sudah menjomantara ke langit ketenaran di dunia kepenulisan, toh euforia diri terlonjak juga saat artikel menembus rubrik opini Kompas yang harus saya akui sulit untuk ditembus.

Memang sulit ditembus, tetapi bukan sesuatu yang mustahil untuk ditembus. Kuncinya adalah pantang menyerah dan tidak cepat putus asa.

Mungkin ada baiknya tips dan trik tulisan agar bisa menembus halaman opini Kompas yang pernah saya sharing di blog gratisan itu saya tayangkan lagi di Rubrik “Aksara” PepNews! ini dengan perubahan redaksional seperlunya, disesuaikan dengan kekinian. Memang sudah berlalu hampir satu sepuluh tahun lalu lalu, tetapi aktualitasnya tetap terjaga dan trik untuk menembusnya juga tidak berubah.

Apa syarat menulis opini Kompas?

Pertanyaan semacam ini sering terlontar dari rekan maupun saat saya memberi pelatihan menulis. Saya biasa menjawab bahwa artikel harus aktual, artinya sesuai dengan peristiwa terkini. Jawaban ini sesuai pengalaman saat untuk pertama kali artikel saya dimuat di halaman opini Kompas, yang dulu dikenal sebagai “Halaman 4”.

Waktu itu, artikel saya yang berjudul Berharap dari KPAT Ke-8 bisa lolos seleksi dan dimuat di halaman yang dianggap sebagian penulis “bergengsi” itu pada Rabu 20 Juni 1990, karena disesuaikan dengan adanya Kongres Perpustakaan se-Asia Tenggara di Jakarta. Saat artikel itu muncul, Kongres baru saja dimulai. Artinya, antisipasi dan persiapan saya saat menulis artikel itu dilakukan jauh-jauh hari sebelumnya!

Halaman 4 Kompas yang memuat Tajuk Rencana dan Opini yang sekarang menjadi Halaman 6 dan 7, sering dianggap sebagai “Universitas”-nya Kompas. Tempat di mana pemikiran paling mutakhir dari para pakar tercurah. Ada tempat pembelajaran lintas ilmu di sini, selain juga bisa mengetahui arah kebijakan Kompas (baca keberpihakan) lewat Tajuk Rencana dalam menyikapi perkembangan zaman.

Baca Juga:  IDE MENULIS OPINI (6) - Mengenal Cara Berpikir "Mind Mapping"

Kecuali Tajuk Rencana, opini merupakan halaman khusus untuk pembaca atau dalam hal ini pakar, tidak boleh wartawan Kompas menulis opini di situ. Selain bergengsi, honor yang diberikan pun di atas rata-rata honor artikel pada media massa lain.

Mengetahui syarat-syarat yang diinginkan Kompas mengenai sebuah artikel, mungkin salah satu strategi dalam menyiasati artikel agar bisa dimuat. Setelah meminta izin dari Fitrisia M (Mbak Poppy) dari Desk Opini saat itu, saya memaparkan 17 penyebab sebuah artikel ditolak oleh Desk Opini Kompas.

1. Topik atau tema kurang aktual
2. Argumen dan pandangan bukan hal baru
3. Cara penyajian berkepanjangan
4. Cakupan terlalu mikro atau lokal
5. Pengungkapan dan redaksional kurang mendukung
6. Konteks kurang jelas
7. Bahasa terlalu ilmiah/akademis, kurang populer
8. Uraian terlalu sumir
9. Gaya tulisan pidato/makalah/kuliah
10. Sumber kutipan kurang jelas
11. Terlalu banyak kutipan
12. Diskusi kurang berimbang
13. Alur uraian tidak runut
14. Uraian tidak membuka pencerahan baru
15. Uraian ditujukan kepada orang
16. Uraian terlalu datar
17. Alinea pengetikan panjang-panjang.

Kepada para penulis yang berminat menulis artikel untuk rubrik opini Kompas ini, saya selalu kitakan, kita tinggal menegasikan saja 17 persyaratan di atas. Menegasikan itu artinya membaca kebalikannya, sehingga maknanya menjadi sebagai berikut;

1. Topik atau tema harus aktual.
2. Argumen dan pandangan harus hal baru.
3. Penyajian jangan berkepanjangan alias singkat saja.
4. Cakupan harus menyeluruh dengan scope yang luas.
5. Pengungkapan dan redaksional harus mendukung gagasan yang dibahas.
6. Konteks harus jelas sesuai cantelan peristiwa dengan duduk perkara yang jelas pula.
7. Bahasan disajikan secara populer dengan memperhatikan khalayak pembaca umum.
8. Urangan jangan sumir, tidak bluffing, hoax, serta jangan berpurbasangka.
9. Hindari gaya tulisan pidato atau gaya makalah untuk konsumsi akademis.
10. Sumber kutipan harus jelas dengan rujukan yang tepat.
11. Jangan terlalu banyak kutipan, secukupnya saja, dan kutipan hanya sebagai penekanan.
12. Diskusi harus berimbang dan tidak tendensius.
13. Alur urian harus runut dengan sistematika berpikir yang logis.
14. Uraian harus memberikan pencerahan serta wawasan baru dengan mengemukakan kebaruan (novelty).
15. Uraian jangan ditujukan kepada orang secara personal, tetapi kepada subyek bahasan.
16. Uraian harus variatif dengan menyertakan konflik, klimaks, kejutan, tidak datar dan membosankan.
17. Alinea atau paragraf dibuat “staccato” atau pendek-pendek saja sehingga tidak “menyiksa” nafas pembaca.

Baca Juga:  FPI di Pusaran Pilkada DKI

Syarat lain yang amat penting menurut Kepala Desk Opini Kompas (saat itu) Tony D. Widiastono, adalah panjangnya artikel yang cukup 5.300 karakter atau 700 kata saja dalam Bahasa Indonesia.

Biar lebih cepat sampai,tulisan dikirim lewat surat elektronik ke alamat: opini@kompas.co.id atau opini@kompas.com. Naskah yang lolos pemeriksaan akan dimuat secepatnya dengan “telepon cinta” dari editor desk, sebagaimana yang diterima Fuadi. Artinya, naskah yang akan dimuat dalam pekan ini akan diberitahukan kepada penulisnya.

Manfaatnya apa? Tentu saja telepon secara tidak langsung adalah bentuk silaturahmi selain tujuan utamanya adalah memastikan apakah tulisan yang akan dimuat itu belum dimuat di media lain dan tidak sedang dikirim ke media lain. Kepastian ini penting untuk mengindari naskah ganda alias tulisan yang sama tetapi dimuat di media lainnya.

Jika naskah opini tidak bisa dimuat, dipastikan akan dikembalikan paling lama dua minggu dari penerimaan naskah.

Bagaimana, berani mencoba?

Ahmad Fuadi dan Junanto Herdiawan sudah membuktikannya!

***