Romansa

Mangkirnya Sang Pengantin Pria (Anita 6)

Fiksi, Cerber, Novel, Anita, Headline
Betapa hancur Anita, sang pengantin perempuan, yang menghadapi kenyataan pahit calon suaminya tidak hadir saat pesta perkawinan karena ditangkap KPK.

Cerber: Pepih Nugraha

Sudah sejak lama Raka paham bahwa manusia dilahirkan sama, tetapi tidak dengan nasib dan papasten-nya. Nasib setiap orang bisa berbeda bahkan sejak orang itu terlahir ke dunia. Apalagi papasten atau kepastian -bahasa langit menyebutnya qadar– semakin tidak sama. Itulah yang ia hadapi di aula besar tempat pesta perkawinan dilakukan. Ia melihat saat itu nasib dirinya berbeda dengan orang-orang penting yang telah berduyun-duyun memasuki aula.

Nasib kadang diukur lewat penghasilannya hari ini. Dari sisi rezeki, ini hari baik. Mestinya ini juga nasib baik. Air nira dagangannya tandas. Uang receh sudah berhasil ia kumpulkan jadi satu di selampe kumalnya yang warna kainnya telah memudar. Naluri mengajarkan, setiap orang bisa mengubah nasibnya sendiri, termasuk dirinya. Tetapi tidak untuk takdir atau qadar tadi. Setiap manusia akan menemukan takdirnya sendiri sesuai yang tertulis dalam buku ghaib yang masih dipegang Sang Pencipta.

Musik dari pelantang yang dipasang di luar aula masih terdengar. Tapi sejauh itu, belum ada tanda-tanda pesta atau upacara pernikahan akan segera dimulai. Orang-orang dan tetamu semakin banyak berdatangan. Mentari sudah semakin meninggi. Raka mulai bergerak untuk menjauhi aula itu. Baginya, tugas hidup selesai sudah ia laksanakan hari ini.

Meski api cemburu tak pernah padam, ia bersyukur Anita dipinang amtenar kota yang kaya raya. Toh kalau dia yang menikahinya atau kekasihnya itu yang memilih hidup bersamanya, kehidupan akan sengsara karena ketiadaan harta benda di sekelilingnya. Bagaimanapun, harta adalah hiasan dunia. Jauh di palung hati terdalamnya, ia bersyukur sekaligus bangga masih menjaga kesucian kekasihnya itu. Itulah yang membuatnya merasa sempurna sebagai seorang lelaki.

Untukmu, Raka…” lirih Anita masih terdengar, serasa baru terucap kemarin petang, padahal sudah berbilang musim berganti.

Raka memundak rancatan melengkung seperti busur itu dengan kedua ujungnya diganduli tabung bambu air nira yang telah tandas. Beranjak pergi semakin menjauhi aula. Saat Raka melewati gambar besar penikahan yang dipajang di ujung antrian masuk tetamu undangan, yakinlah kalau yang sedang berbahagia hari ini adalah Anita, kekasihnya. “Ia lebih cantik digambar itu, hampir aku tak mengenalinya,” Raka menghibur dirinya sendiri.

Namun tak dapat dipungkiri, senyum di gambar itu sejenak menusuk dadanya juga. Perih rasanya, menyesakkan sukma, tetapi itu membuatnya bahagia dan bangga karena telah berhasil menjaga kesucian kekasihnya. Api cintanya memang tak pernah padam, meski hanya berupa sekam.

Raka paham, sedikit saja angin menebak sekam itu, bara cintanya akan segera berkobar-kobar menyala. Raka ingin melabuhkan lagi cintanya kepada perempuan yang sama saat pertama ia jatuh cinta. Anita.

Harapan selalu ia simpan, sebab hanya orang matilah yang tidak menyimpan harapan. Dan Raka melihat senyum pengantin pria di gambar itu seperti tertahan, seperti menahan sakit dan tidak tampil alami. Matanya tidak fokus ke arah mata kodak, seperti ada banyak hal yang dipikirkannya. Ah, apa pedulinya, pikir Raka, toh pengantin pria yang sudah berumur itu juga orang yang paling berbahagia di dunia, setidak-tidaknya untuk hari ini dan malam nanti!

“Rakaaaa…!!” sebuah sapaan dari belakang menghentikan langkahnya.

Dua tabung bambu kosong itu berayun, berputar saat Raka memutar tubuhnya ke belakang. Raka celungak-celinguk mencari sumber datangnya suara. Hanya ada kerumunan manusia dan ia belum bisa memastikan suara perempuan yang memanggilnya dari arah kerumunan itu.

Oh, Sukaesih rupanya!

Perempuan muda itu tergopoh-gopoh keluar dari kerumunan, disusul Pendi, kekasih perempuan itu. Raka mengenali keduanya. Terlebih Pendi, sebab ia teman sekelasnya dulu.

Raka masih mematung dan mulai menurunkan rancatan dari pundaknya. “Syukurlah kamu berada di sini, Raka…. atau kamu memang diundang?” kata Sukaesih mengenakan kain kebaya yang kainnya ia angkat sampai paha saat mengejarnya tadi. Raka tersenyum membalasnya, cukup menggelengkan kepalanya.

“Jadi kamu tidak tahu kalau ini pernikahan Anita?” susul Sukaesih.

“Sama sekali. Aku ke sini untuk jualan air nira, Esih…. alhamdulillah…. daganganku habis sebelum matahari tepat di atas kepala.”

“Baiklah Raka… tapi bukan itu yang mau kukatakan kepadamu,” susul Esih. “Ini tentang Anita, kekasihmu!”

Kekasihku? Ah, tidak baik kau bicara seperti itu, Esih, nanti ada orang yang marah kepadaku. Kumohon kau tidak berkata seperti itu lagi!” Hening sejenak. Sukaesih dan Pendi saling pandang. “Maukah kalian kumintai tolong!?”

Suara musik yang ingar-bingar dari pelantang sejenak diam, disusul semacam pengumuman yang suaranya samar-samar terdengar…. “Para ibu-bapak dan hadirin undangan yang terhormat, kami mohon semuanya tenang, kami mohon semuanya tenang…!!!”

Sukaesih seperti menajamkan telinganya ke arah suara dari pelantang itu, demikian pula Pendi. “Dengar, Esih, maukah kau kumintai tolong?” Raka memaksa perhatian perempuan itu beralih. Saat dia berbalik, Raka sudah menyerahkan selampe kumal yang warna kainnya sudah memudar, selampe berisi uang hasil dagangannya hari ini. “Maukah kau menyerahkan ini kepada Anita, anggap saja sebagai kado pernikahan dariku untuknya!”

Sukaesih tak percaya atas apa yang dilihatnya, atas apa yang didengarnya. Sementara dengan cekatan Raka cepat menarik lengan Sukaesih agar segera menerima selampe kumalnya. Perempuan itu menahan nafas sementara airmatanya yang mulai merembes coba ditahannya jangan sampai bergulir.

Pendi berdiri mematung, juga tak percaya atas apa yang baru saja didengar dan dilihatnya. Sebagai sesama lelaki, ia mengaku takluk dan tak memiliki kesadaran cinta yang demikian dalam sebagaimana Raka. Demikian agung dan hebatnya cinta itu di tangan orang yang tulus dan bertanggung jawab. Apa yang mereka lihat berdua di depannya adalah sebuah ketulusan cinta dari seorang pedagang air nira!

“Raka….” Sukaesih mulai bersuara, kini air matanya jatuh juga setelah ia usap dengan punggung tangannya. “Aku dan Pendi justru ingin mengabarkan bencana dan berita buruk tentang Anita.”

“Aku hanya ingin kalian memberikan kado ini kepada Anita,” potong Raka yang telah berhasil memindahkan selampe itu ke genggaman Sukaesih. “Tak ada kabar buruk apalagi bencana dalam kebahagian sebuah pesta perkawinan, Esih, ini bukan maksudku mengganggu kekhidmatan pernikahannya.”

“Tetapi selalu ada kekecualian, Raka…”

Raka terdiam. Sihir kata-kata terakhir Sukaesih membuatnya mengunyah keras maksud dari kalimat itu. “Jadi..?? Maksudmu…???”

“Calon pengantin pria tidak kunjung datang. Bahkan tidak jadi datang!” sambar Sukaesih. “Ini berita duka dan bencana buat Anita, bukan!?”

Raka semakin dalam mengunyah kata-kata sahabat perempuannya itu sebelum kalimat ini terlontar, “Lelaki mana yang tak sudi datang di hari bahagia pernikahannya dengan pengantin perempuan yang cantik, Esih?”

“Ada,” Esih mulai memegang lengan Raka, menekukkan kakinya, memohon. “Dan lelaki itu adalah Johan, amtenar kota calon suami Anita!”

Naudzubillah… Raka bergumam, masih tak paham.

“Ada apa dengannya sampai-sampai tak datang tepat di hari perkawinannya?”

“Johan ditangkap komisi pemberantas uang rakyat di tengah perjalanan menuju ke mari!”

Raka ternganga, kini ia sedikit paham.

“Jadi…. apa yang harus kulakukan, Esih!?”

“Kamu harus menolong Anita, Raka! Anitamu…!!”

 (Bersambung)

***

Baca Juga:  Pesta Perkawinan Amtenar Kota (Anita 5)