Aksara

IDE MENULIS OPINI (4) – Tentukan Gagasan Utama, Temukan Asumsi

Menulis, Literasi, Gagasan Utama, Main Idea, Opini, Headline
Setiap tulisan memerlukan gagasan utama. Dari gagasan utama lahirlah sejumlah asumsi, kemudian jawablah asumsi-asumsi itu untuk diambil kesimpulannya.

Tiga cara agar tidak lupa main piano atau gitar hanyalah berlatih, berlatih, dan berlatih. Itu kunci menguasai. Saya teringat buku The Outliers karangan Malcolm Gladwell yang pernah saya baca, buku tentang orang-orang sukses yang “berada di luar statistik”, tentang keseriusan grup musik The Beatles yang harus melakukan 10.000 “jam panggung” agar keempat personilnya bisa mempertahankan profesionalitas mereka.

Demikian juga dalam menulis. Berlatih, berlatih, dan berlatih adalah kunci sukses menulis. Penulis profesional sekalipun kalau tidak menempuh “tiga” cara ini akan membuatnya mati gaya dan mati rasa. Saya sering mengatakan, menulislah setiap ada kesempatan selagi kamu bisa, minimal menulis status di Facebook atau sekadar berkicau di Twitter. Tentu menulis yang tidak terstruktur, toh hanya berupa gerundelan saja. Ya nggak apa-apa, yang penting kamu anggap itu sebagai latihan.

Nah, menulis yang lebih terstruktur, yang tidak sekadar grundelan satu kalimat, adalah tantangan yang harus dihadapi oleh penulis maupun calon penulis. Jadi agar punya struktur kokoh dalam menulis opini, misalnya, kamu wajib punya apa yang sering saya sebut “gagasan utama”. Setiap tulisan, baik itu artikel maupun opini, harus punya gagasan utama (main idea) ini. Jika tidak, tulisanmu hanya berupa coretan “cakar ayam” yang tidak bermakna.

Lalu, apa itu gagasan utama?

Baca Juga:  "Kudeta" Setya Novanto terhadap Ade Komarudin Direstui Istana?

Saya kurang mahir menyusun definisi secara verbatim, yang memaksa orang untuk menghapalnya ketika membaca definisi itu. Bagi saya, ini cuka yang menambah perih luka sehingga menjadi beban derita pembaca sebagaimana para dosen memaksa mahasiswanya menghapal definisi, bukan memberi pemahaman.

Menghapal definisi baik-baik saja, tetapi yang lebih penting lagi memahami maksud dan implementasinya. Jadi kalau ditanya apa main idea dalam menulis, saya jawab “tidak tahu” presis.

Dalam pikiran saya, gagasan utama adalah pokok pikiran atau pokok bahasan dalam sebuah tulisan, yang melahirkan cabang dan ranting gagasan yang memerlukan pembuktian dan kelak berakhir di pelabuhan kesimpulan.

Kalau dalam benak kamu terbersit satu frasa “Manfaat Media Sosial buat Pergaulan”, katakanlah begitu, nah itu baru sebuah asumsi yang perlu kamu buktikan benar-tidaknya. Tetapi sebenarnya gagasan utama yang ingin kamu sodorkan adalah kehadiran media sosial seperti Facebook dan Twitter di tengah kehidupan manusia modern sekarang ini. Berangkat dari sini, kamu bisa melakukan pemetaan pemikiran ala Tony Buzan (suatu saat saya akan bahas manfaat mind mapping dalam menulis).

Baca Juga:  DKI Butuh Pemimpin Asketis, Bukan Kampanye Berlabel Agama

Manfaat media sosial hanyalah salah satu cabang saja dari gagasan utama mengenai kehadiran media sosial di tengah masyarakat modern. Kamu bisa menulis kebalikannya dari manfaat, yaitu mudlarat. Bilang saja “Facebook Nggak Penting” atau “Twitter Cuma Cari Musuh”. Ini ‘kan mudlarat yang juga harus kamu buktikan kebenarannya, yang wajib kamu beri tahu pembaca mengenai asumsi yang kamu bangun dan argumen yang kamu berikan. Jangan lupa beri kesimpulan atas semua argumen yang kamu berikan itu!

Ternyata, kamu baru punya dua cabang ide (pemikiran) dari gagasan utama “kehadiran media di tengah masyarakat modern”, yaitu baru sebatas “manfaat” dan “mudlarat”-nya media sosial. Padahal cabang lainnya menunggu; “Dampak psikologis berjejaring di dunia maya bagi remaja”, “Pergaulan maya ditinjau secara filosofis”, “Dapet jodoh berkat Facebook”, “Hampir mati gara-gara medsos”, “Path ‘agama baru’ remaja kota’ dan seterusnya.

Maaf kalau kamu anggap saya sombong…. sebab saya bisa menuliskan berpuluh bahkan beratus-ratus cabang ide dan ranting gagasan dari gagasan utama yang saya dapatkan.

Apa yang saya sampaikan ini adalah cara-cara saya dalam melahirkan ide untuk menulis opini; baik itu opini berkategori berat maupun ringan. Melahirkan ide bisa dimulai dengan menentukan gagasan utama yang biasanya lahir tatkala terbersit keinginan menulis tentang satu hal.

“Bisnis taksi, melepaskan diri ancaman gulung tikar”. Itu gagasan utama yang terlintas saat kamu memulai menulis artikel atau opini.

Nah, dari gagasan utama itu kamu bisa ceritakan bagaimana upaya taksi konvensional seperti Blue Bird atau Express dalam menghadapi serbuan taksi online berbasis aplikasi. Segera kamu jelajahi dan cari tahu apa itu taksi online, apa itu aplikasi, bagaimana kemudahan dan efektivitas aplikasi itu. Apakah Blue Bird misalnya menciptakan aplikasi untuk armadanya yang lebih menarik dan mudah digunakan. Atau menawarkan potongan harga besar-besaran yang lebih kompetitif dibanding taksi online.

Jadi, betapa pentingnya memegang “gagasan utama” untuk melahirkan ide menulis opini itu.

***

Baca Juga:  Cermin