Romansa

Perempuan Desa dengan Tubuh Nyaris Telanjang (Anita 8)

Fiksi, Cerber, Novel, Anita, Headline
Satu persatu perempuan desa itu mulai membuka kebaya pengantinnya di tepi jurang menganga, bahkan ia sudah mulai membuka penutup terakhir auratnya.

Cerber: Pepih Nugraha

Sebelum sang pengantin itu benar-benar mencapai bibir jurang, Raka mengerahkan segenap kemampuan berlarinya. Otot-otot paha dan betisnya sedemikian terlatih karena tempaan hidup keras sehari-hari. Tubuhnya melayang indah bagai cheetah menerkam kijang lincah di gurun Afrika. Pun demikian, usahanya tidak sampai menyentuh, apalagi menggapai, tubuh sang pengantin yang tengah berdiri membelakangi jurang menganga.

Upaya yang demikian keras masih menyisakan jarak sepuluh depa. Raka terpaksa harus berhenti di tempat di mana ia berdiri sekarang. Mencoba melangkah maju, Anita, sang pengantin, mundur sebanyak langkah maju si penyadap nira. Hanya ada perdu liar yang tumbuh di bibir jurang itu. Ini pun menyisakan perangkap mematikan. Tersandung perdu itu dalam posisi berjalan mundur akan berarti akhir hidup sang pengantin.

Kini keduanya saling tatap dengan nafas masing-masing yang sama-sama memburu, bahkan tersengal-sengal. Dada keduanya turun naik. Raka belum bereaksi lagi dan tak tahu apa yang harus dilakukannya, sedangkan sang pengantin mengawasinya dengan sorot mata kebencian paling liar yang pernah dimilikinya.

“Jangan coba-coba kamu mendekat! Lelaki bangsat…. kamu sama saja dengan semua bajingan itu!” dari bibir jurang Anita mulai menghamburkan sumpah-serapahnya yang paling keji. Raka tak peduli makna sumpah-serapah itu. Ia melihat tatapan kosong melompong saat Anita berteriak penuh amarah.

“Kau masih bisa istighfar, bukan?” Raka memberanikan diri membuka suara. “Nyebut, Anita,nyebut!”

“Kamu tak perlu mengajariku kebaikan kepadaku, sebab pada dasarnya semua lelaki bajingan!” raung Anita membelah langit.

Seekor elang melayang rendah di atas kepala mereka di dataran tinggi dengan jurang tegak di depannya. Boleh jadi seekor kelinci atau tikus hutan melintas dan mata elang telah mengunci mangsanya dari angkasa. Tanpa suara, elang itu merendah dan kemudian menukik pada satu titik. Sedetik setelahnya terdengar bunyi cericit tikus menjerit terkena cengkeraman kaki elang yang sangat perkasa.

Bunyi cericit memilukan inilah yang mampu menghentikan tangisan Anita sejenak. Tetapi sedetik kemudian adalah pemandangan yang tak kalah memilukan dari sekedar tikus hutan malang itu, saat sang pengantin tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. Giliran Raka yang berucap istigfar.

Tidak ada yang lucu, tak ada sesuatu yang membuat seorang waras bisa tertawa terbahak-bahak dengan suara membelah lembah, menggoyangkan rerumputan di sana. Raka merinding hebat.

Raka paham, menangis adalah pekerjaan orang waras. Pun tertawa. Akan tetapi ketika tangis pilu berganti tawa membahana dalam hitungan detik, tidak ada kata lain selain malapetaka hebat tengah menimpa jiwa orang itu. Bencana besar tengah mengguncang palung terdalam jiwa Anita, atma kekasihnya. Raka merinding lagi. Meski tetap harus menahan air mata, Raka bertekad untuk tidak menyerah.

Di depan matanya, sang pengantin tidak lagi mengutuknya sebagai lelaki bajingan. Ia masih menyisakan tawanya yang kini berubah menjadi sebuah ringkikan mengerikan.

Hal mengejutkan lainnya, Anita mulai membuka baju kebaya yang membalut tubuh bagian atasnya. Oh, demikian indah karya Sang Pencipta. Bahkan di kampung kerontang inipun keindahan alami seorang perempuan itu ada!

Kebaya putih itu kemudian ia lempar ke bawah jurang, melayang… dan perlu beberapa saat lamanya sebelum sampai ke dasarnya, menyangkut di kerucut bebatuan tajam di dasar jurang. Anita cekikikan kembali semakin tak terkendali.

“Akan kuperlihatkan semua bagian tubuhku agar kamu puas, paham!?” sembur Anita lagi sambil terus tertawa.

Puas dengan tubuh bagian atas yang hanya terbebat kutang, ia kini mulai memelorotkan kain kebaya pengantin yang membebat tubuh bagian bawahnya.

“Jangan kau lakukan itu, Anita, istigfar!” Raka selangkah maju ke depan yang dibalas Anita mundur selangkah ke belakang, semakin mendekat bibir jurang. Kain kebaya itu sudah berhasil dibebaskan sepenuhnya. Kini tubuhnya polos, hanya memperlihatkan celana dalamnya yang berenda. Kain kebaya itupun bernasib sama dengan gaun pengantin yang menjadi penghuni dasar jurang.

Di belakang, beberapa orang mengikuti ke mana Raka dan Anita berlari, termasuk Sukaesih dan Pendi. Tetapi mereka tidak berani mendekat. Apalagi dengan kekuasaan yang entah ia dapatkan dari mana, Raka memberi isyarat agar mereka tidak mendekat. Mereka pun patuh.

Di hadapannya, keindahan jelas ada pada perempuan, bukan pada lelaki, meski Sang Kuasa menciptakan makhluk yang sama.

“Kau seharusnya malu kepada Tuhan karena telah memperlihatkan auratmu sendiri, Anita,” Raka mulai memberanikan diri bicara, sekadar memancing perhatian kekasihnya, syukur kalau lengah.

“Kenapa harus malu? Tuhan sendiri tak pernah berpihak kepadaku! Tuhan malah berpihak pada pada setiap lelaki bajingan yang berhasil memperdayaiku,” teriak Anita.

Istigfar, Anita, kau telah kerasukan setan!”

“Kamu juga! Lebih-lebih kamu, Raka, kamu telah berani-beraninya menghinaku dulu!”

Untukmu, Raka…

Kata-kata itu terngiang kembali memenuhi rongga telinganya. Ia masih belum paham mengapa penolakannya di lembah sepi waktu itu justru membuat Anita murka sampai sekarang. Mengapa penghormatannya telah disalahmaknakan menjadi sebuah kebencian setengah mati. Raka menunggu Anita lengah dan lelah. Celakanya, ia mulai berusaha membuka kutang yang melingkari buah dadanya!

Agak kesulitan ia karena kunci pembuka kutang itu ada di bagian belakang punggungnya. Terlihat, Anita berusaha menekuk lengan kanannya ke belakang sambil terus cekikikan. Bahkan secara refleks dan tanpa disadarinya, ia sedikit membelakangi Raka sekaligus menghadap jurang menganga di depan demi membuka kutang yang membebat buah dadanya.

“Kau mau membukakan kancing kutangku ini, Raka!” katanya sambil tertawa-tawa.

Raka tak menyia-nyiakan kesempatan tipis itu saat sang pengantin lengah. Ia terbang melayang seperti codot menangkap serangga dengan harapan bisa menangkap tubuh kekasihnya yang sudah nyaris polos itu. Berhasil.

Tetapi bukan tanpa perlawanan. Anita berontak hebat tatkala menyadari tubuhnya telah dikuasai seseorang. Seluruh anggota tubuhnya bergerak keras. Meronta. Ini yang membuat dekapannya sedikit mengendur.

“Lepaskan aku, Bajingan!!”

Tubuh putih yang hampir polos itu terlepas dan melorot ke tepi jurang. Hal yang membuat tubuh perempuan itu tidak langsung terempas hanyalah cengkeraman kuat jemari Raka yang memegang erat leher lengan kanan Anita. Tanaman perdu liar itu menjadi penyelamat sesaat buat Raka, sebab kepada pohon liar inilah tangan kiri Raka berpegang kuat. Bahkan dua nyawa terselamatkan hanya oleh perdu liar!

“Biarkan aku mati, Raka!!” jerit Anita terus meronta.

“Kau tak boleh mati selagi ada aku, Anita!” bisik Raka.

Raka tak mau membuang-buang waktu, pun ia tak ingin kehabisan tenaga mengangkat tubuh perempuan yang terasa semakin membebaninya. Betapa penting memiliki tubuh perkasa karena tempaan kehidupan sehari-hari sebagai pemanjat pohon aren. Kini tenaga alami itu sangat dibutuhkan menghadapi kondisi ekstrem seperti ini.

Sementara kerumunan orang kini mulai berani mendekat, tetapi tidak tahu harus berbuat apa selain berdiri menonton adegan dua manusia yang seperti menggelayut di batang perdu liar ini.

Ketika sang pengantin itu berhasil Raka tarik ke atas dengan tenaganya yang tersisa, ia masih meronta dengan tubuhnya yang nyaris polos sempurna. Kedua makhluk itu terlihat bergulingan di atas rumput hijau. Ketika keduanya terpisah beberapa depa, Raka lekas membuka kain sarung yang melilit pinggangnya untuk dibebatkan pada tubuh polos Anita. Perempuan itu lagi-lagi meronta.

“Biarkan aku telanjang agar kamu puas melihatnya!”

Dengan kekuatan penuh Raka kemudian memundak perempuan itu dalam posisi menelungkup. Tangan kanannya memegang paha bagian belakang Anita, sedang tubuh dan kepalanya dibiarkan berjuntai ke bawah. Bunga pada mahkota sang pengantin yang masih dikenakannya melambai-lambai, berjuntai.

Dengan kedua tangannya, Anita masih sempat memukul-mukul bagian paha Raka yang mulai berjalan cepat memangku tubuh perempuan itu tanpa kesulitan, sebagaimana ia memundak rancatan dengan dua tabung bambu berisi air nira. Alam menempanya sebagai lelaki perkasa dalam makna sesungguhnya.

Tetapi baik pukulan maupun jeritannya lama kelamaan semakin lemah dan terus melemah. Pada satu titik, pukulan dan jeritan sudah tidak ada lagi. Anita kelelahan sendiri di atas pundak Raka. Pingsan.

Raka tahu persis ke mana ia harus membawa sang pengantin yang jiwanya tengah mengalami guncangan hebat ini

(Bersambung)

***

Anita Sebelumnya:

Baca Juga:  Remuknya Hati dan Jiwa Sang Pengantin Wanita (Anita 7)