Wacana Warga

PKS dan Teriakan “Ahok Kafir”, Apakah Masih Akan Terdengar?

Partai Keadilan Sejahtera, PKS, Partai Politik, Pilkada DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, Headline
Dalam Pilkada DKI Jakarta, PKS bersama Gerindra mengusung pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno, kampanye bernuansa SARA sesekali dilakukan terhadap lawan.

Untuk semua partai Islam, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) lebih unggul dan sempurna berdandan agamis. Hal itu terjadi sampai sekarang. PKS lekat dengan agama. Akan tetapi, di era kekuasaan Preesiden Susilo Bambang Yudhoyono, sejumlah borok partai terbongkar, khususnya terkait kejahatan korupsi yang menyita perhatian publik.

Fakta kebejatan sejumlah kader yang terlibat kejahatan itu masih terekam di benak publik, sampai sekarang, bahkan dalam beberapa kasus kadang partai ini nekat membela teroris dan doyan mengkafirkan mereka yang tidak sealiran, serta tergiur nafsu duniawi di jalur curang.

Bermula dari kisah Presiden PKS Lutfi Hasan Ishaq yang sukses mengukir sejarah hitam, nama PKS mulai tercoreng. Pimpinan PKS ini terseret skandal uang haram, diciduk KPK dan terpaksa “bertafakur” di balik jeruji penjara.

Baca Juga:  Cara iPhone "Membunuh" Samsung Phone Sungguh Menjijikkan

Cerita berlanjut. Selain SBY, Presiden Jokowi juga terbukti galak memerangi koruptor. Melalui lembaga antirasuah KPK, operasi tangkap tangan kembali berhasil menyeret kader PKS.

Sang koruptor termasuk “kelas kakap” dari sisi jabatan, yakni Gubernur Gatot Puji Nugroho. Mata jutaan rakyat dibuat terbelalak. PKS terkesan tidak kapok memamerkan syahwat kekuasaan yang melenceng dari ajaran Islam, khususnya perbuatan korupsi.

Ihwal aib itu melabarak para dedengkot PKS. Sementara sebagian loyalisnya bergerilya meredam kecaman ummat. Tapi upaya kemunafikan tersebut belum berhasil.

Putar otak, militan partai berjubah agama ini meracik isu panas untuk mengelabui rakyat. Jurus nekat pun dilakoni, sahut-sahutan teriak: “Ahok kafir”. Suara penuh amarah itu bergulir liar. Teriakan “Ahok kafir” menjati alat politik yang sah untuk meredam laju dan gerak lawan.

Hajat gerakan “anti Ahok” kian kencang menghasut publik. Targetnya; pulihkan citra partai dan menangkan Cagub yang mereka usung di zona strategis ibu kota Negara.

Asbab itu tampak PKS dan jaringan kelompok garis keras bersekutu. Sembari menunggangi ambisi Prabowo Subianto dan Gerindra demi meraih kemenangan bersama. Pada Pilgub DKI, PKS bersama Partai Gerindra mendukung pasangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno.

Silakan saja! Toh rakyat sudah cerdas dan tahu akal bulus PKS. Ahok benar seorang Nasrani dan dijuluki “Cina kafir”. Namun dia bukan politisi bertopeng agama yang gemar mencuri uang negara!

Tidak semua kader PKS berwatak KKN, sebagian dari mereka adalah politisi yang bersih dan istiqomah. Dan tidak mustahil di balik layar mereka justru bersimpati kepada Ahok…?

***

Baca Juga:  Mengapresiasi Oposisi Pop ala Duo Pimpinan DPR RI Fahri-Fadli