Romansa

Sepagi Ini, Perempuan Berkerudung Putih Itu Datang (Anita 9)

Fiksi, Cerber, Novel, Anita, Headline
Gadis berkerudung putih itu datang ke pedukuhan di kaki bukit itu. Wajahnya tirus, tetapi tidak menyembunyikan kecantikan alaminya sebagai kembang desa.

Cerber: Pepih Nugraha

Tiga purnama telah berlalu sejak peristiwa batalnya pesta pernikahan Anita dengan amtenar kota. Sebuah pesta yang mengguncangkan seisi desa. Warga pedukuhan di kaki bukit itu tidak habis mengerti, mengapa ada pesta pernikahan suci bisa berantakan begitu rupa. Bagi warga kampung di mana Raka mukim, pesta pernikahan sama sakralnya dengan pesta tujuh belas agustusan yang berlangsung setahun sekali. Tidak bisa dibayangkan jika pesta itu mendadak bubar seketika.

Pergantian hari tidak membawa perubahan bermakna bagi pedukuhan di mana Raka tinggal, sebuah bukit kecil yang rimbun oleh pepohonan dengan hamparan rerumputan di sekelilingnya, kecuali datangnya sebuah keajaiban. Orang-orang menyebutnya henpon. Dengan benda ajaib di telapak tangan itu, siapapun bisa saling berbicara dan berkirim pesan, tanpa benang atau kabel.

Raka teringat masa kecil ketika ia bersama temannya saling berkomunikasi lewat dua kaleng bekas yang salah satu penutupnya dilubangi. Kemudian di permukaan penutup kaleng yang telah dilubangi sebesar tusukan paku itu terentang benang. Suara dialirkan lewat getaran benang yang terentang dan bergema di dalam kaleng yang kedap suara. “Hallo, hallo…. Ini Safe’i ya…. apa kabarmu, Tuan Safe’i!?” demikian Raka kecil bermain telepon-teleponan.

Kini keberadaan “kaleng ajaib” sudah sangat berubah. Bentuknya bagus, ada layar televisi kecil di permukaannya dan yang penting benda itu bisa bicara tanpa menggunakan benang yang terentang. Namun demikian, keberadaan benda ajaib sebagai alat berbicara jarak jauh di genggaman pun tidak mengubah kebiasaan Raka.

Kehidupan telah membuatnya mengikuti jalannya hari, seakan-akan hari adalah bokong yang harus diikuti. Setiap pagi kewajibannya tidak lain menaklukkan pohon aren yang menjulang tinggi bak menggapai awan. Memasang tabung bambu di puncak pohon untuk menyadap enau.

Sesulit apapun tantangan jika itu dilakukan sebagai kebiasaan, maka tak pernah ada kesulitan. Hanya pemalas saja yang takut menghadapi tantangan. Raka setiap hari menaklukkan pohon enau yang sama, pohon peninggalangan Sobari, bapaknya. Siang hari air nira diturunkan lalu dimasaknya untuk dijadikan gula. Seperti biasa, sebagian air nira ia jual di tepi jalan raya.

Usianya kini sudah seperempat abad, usia yang matang untuk berumah tangga. Beberapa tetangganya dengan senang hati menjadi mak comblang untuknya, mengenalkan beberapa gadis desa sebarang, bahkan menawarkan dirinya sendiri. Namun ada saja cara Raka menolak halus mereka.

“Kurasa tidak ada seorang pun gadis yang mau diperistri penyadap nira, Nyi Ipah,” kata Raka suatu pagi.

“Bukan itu persoalannya, hatimu telanjur tertanam dan mengakar di hati Anita, bukan?”

“Kalau Nyai sudah tahu, mengapa harus susah-susah datang ke mari?” kata Raka tenang. “Ketahuilah, Nyai, penolakan konon sering menyakitkan hati si pemohon, bahkan itu untuk kebaikannya sendiri.”

Untukmu, Raka…

“Aku tak paham maksudmu, Raka?” Nyi Ipah bertanya.

“Sebagai pemohon, hati Nyai mungkin sakit saat kukatakan penolakanku, bukan?”

“Bukan hanya sakit, tetapi tersinggung!” Janda beranak satu itu menarik nafas dan siap-siap pergi dengan kemarahan tertahan. “Gadis perawan saja kamu tolak, apalagi aku yang menawarkan diriku sendiri, sudah janda pula!”

“Begitulah caramu berpikir dan menyimpulkan, sedemikian sesat, Nyai.”

Ipah berlalu.

Pagi mendung. Kabut tipis menyelimuti rumah terpisah di atas huma. Sinar mentari pagi yang menerabas kabut dan udara tipis di sekelilingnya menciptakan bianglala. Berdasar kepercayaan setempat, bianglala adalah pertanda para bidadari turun dari langit untuk mandi di hulu sungai. Satu bidadari yang tertinggal konon pertanda sudah dekatnya jodoh seorang perjaka jika ia melihat bianglala untuk pertama kalinya muncul. Cerita yang seolah-olah hidup di pedukuhan itu dan dipercaya semua penduduk, kecuali Raka.

Pagi yang dingin pilihannya menarik sarung tinggi-tinggi, apalagi rinai hujan pertama menyambut pagi ini sudah jatuh. Itulah yang Raka lakukan. Barangkali menunggu beberapa menit sambil menikmati secangkir teh hangat akan membuat embun dan rinai hujan menyingkir.

Tetapi di luar ia mendengar ketukan halus. Tidak seperti biasanya. Orang-orang yang butuh air nira atau gula aren tidak mungkin bersusah-payah mendatangi rumahnya, apalagi sepagi yang mendung ini. Raka segera beranjak.

Terdengar bunyi berderit saat ia membuka pintu rumah. Saat daun pintu mulai terkuak, Raka tidak percaya atas pandangannya sendiri…..

Di hadapannya kini berdiri seorang bidadari berkerudung putih transparan. Boleh jadi ia salah satu dari tujuh bidadari tadi yang tertinggal di bumi. Wajah yang sangat ia kenal, sebentuk wajah yang kerap menyelinap dalam mimpi-mimpinya meski ia tak pernah mengundangnya. Wajah yang lebih tirus dari biasanya, basah terkena rinai hujan, tetapi tetap mempesona.

“Anita!”

Sekali lagi Raka tak percaya atas pandangannya sendiri, bahkan ia siap mundur untuk menutup kembali pintu. Ia meyakini, ini adalah bagian mimpinya yang terpotong subuh tadi.

“Kamu tak perlu takut, Raka!” Kalimat itu mampu mengurungkan niat Raka. “Kamu hanya perlu membukakan pintu dan mengizinkanku masuk.”

Untukmu, Raka…. terngiang kembali kalimat gaib yang bergema di ruang pendengarannya, suara yang berasal dari masa lalunya.

“Tentu saja boleh, Anita… Mari masuk kalau hidungmu tahan dengan bau busuk gubukku ini.”

“Terima kasih.”

Perempuan berkerudung tipis ini segera melewati pintu sambil setengah merunduk, khawatir kepalanya menerjang palang pintu yang terlalu rendah. Lalu ia duduk bersimpuh. Tak ada kursi, meja, apalagi lemari. Kecuali dua tabung berisi air nira yang berdiri di salah satu sudut. Ruangan panggung berbilik bambu kayu berlantai bambu ini nyaris kosong.

Kini, di dalam ruangan itu hanya ada dua insan. Raka menyalakan sebatang lilin agar membantu penglihatannya yang teratasi gelap. Dan… bayangan gadis berkerudung tipis di hadapannya saat lilin mulai menyala adalah sebuah lukisan indah yang hanya pernah dilihatnya dalam mimpi.

“Mimpipun tidak kau bisa datang kemari, Anita.”

“Ya, sekalinya datang, aku mau merepotkanmu, Raka….”

“Ah, tidak merepotkan. Air nira yang segar ini siap kutuangkan jika kau mau.”

“Bukan itu.”

Untukmu, Raka… lagi-lagi suara gaib itu bergema.

Raka sejenak tertegun, bahkan sempat mengangkat kembali tabung bambu di saat cangkir masih terisi seperempatnya.

“Apa yang bisa kulakukan sekiranya aku bisa menolongmu, Anita?” Cangkir itu sudah hampir penuh terisi air nira.

“Uangmu, Raka,” sambar Anita. “Kupinjam uangmu sementara, nanti akan kukembalikan!”

Uang?  Raka membatin. Ia tidak pernah punya uang banyak, kecuali simpanan sedikit di… selampe. Ya, selampe yang tak sempat diberikannya saat pesta perkawinan Anita tiga purnama lalu!

“Akan kuberikan sedikit uang yang kupunya,” kata Raka mengambil selampe itu dari biliknya.

“Kupinjam. Nanti kukembalikan.”

“Tidak usah kau kembalikan! ini uangmu, ini hakmu.”

“Uangku? Hakku?”

“Ya uangmu. Hakmu.”

Selintas Raka menjelaskan peristiwa tiga bulan lalu kepada Anita. Tiga purnama yang merupakan pergulatan sesungguhnya bagi perempuan itu antara kembali waras atau menjadi gila. Sadar kalau itu bisa membangkitkan kenangan pahitnya, Raka tak hendak berpanjang-panjang kata. “Maaf, bukan maksudku mengungkap masa lalumu itu, Anita!”

Anita menerima selampe kumal itu dari Raka, selampe yang tak sempat diberikannya saat pesta perkawinannya yang gagal itu. Perlahan-lahan ia berdiri dan pamit hendak kembali pulang. Raka menjulurkan tangannya saat Anita terlihat kesulitan untuk mengangkat tubuhnya yang ramping berdiri. Tidak disangka-sangka, perempuan itu menyambut uluran tangannya.

Saat keduanya sudah sama-sama berdiri dan sejajar, sepasang mata saling bertumbukan. Bertatapan sekian detik. Sejuta kenangan saling berhamburan. Jari-jemari mereka saling bertaut. Raka lagi-lagi kalah dan menunduk, lalu melepaskan tautan jari-jemarinya. Baginya, getaran indah itu terlalu kuat. Anita kemudian ke luar pintu.

“Dengan uang ini, aku akan ke Jakarta pagi ini,” katanya setelah memakai sandalnya.

“Ke Jakarta? Untuk apa kau ke sana, Anita?”

“Untuk mengadu nasib, sekalian melampiaskan dendam kepada para lelaki yang akan kucari dan kutemui nanti!”

Tegas dan penuh keyakinan nada bicara Anita, sebagaimana kesehariannya. Ia mulai memunggungi Raka, melangkah pergi.

“Kumohon jangan kau nekat, Anita!”

“Aku memang berutang ini padamu,” katanya membalikkan badan sambil menunjukkan selampe kumal, “Tetapi bukan berarti kamu bisa menahanku, apalagi mengendalikanku!”

(Bersambung)

***

Anita Sebelumnya:

Baca Juga:  Perempuan Desa dengan Tubuh Nyaris Telanjang (Anita 8)