Romansa

Mencegah Perempuan Terperangkap dalam Pasungan (Anita 10)

Fiksi, Cerber, Novel, Anita, Headline
Raka merawat Anita yang kehilangan ingatan dengan segenap ketulusannya, meski dengan purbasangka orangtua Anita dan cibiran orang sekitarnya.

Cerber: Pepih Nugraha

Raka tercenung sendiri memandang bagian belakang tubuh Anita. Hanya lelaki yang tidak normal saja yang tak terpesona punggung, pinggul dan panggul padat menawan yang terlihat mengecil dan terus mengecil tatkala menuruni perbukitan. Sebentar lagi si pemilik tubuh itu akan lenyap ditelan gerumbulan pepohonan di sebuah tikungan sebelum meniti jembatan bambu.

Penyadap nira itu menarik nafas panjang, berharap dapat memuntahkan semua kenangan indah pada embusan nafasnya. Namun yang ada malah sejuta tanya mengepung kesadarannya.

Apakah hubungan yang aneh ini masih bisa disebut sebagai cinta? Apa makna cinta bagiku sebagai si tukang gula, si tukang penyedap nira? Apakah pengorbanan yang kuberikan selama ini pertanda cinta atau hanya sekadar naluri biasa manusia mengingat ada unsur pertemanan di dalamnya?

Belum terjawab.

Apakah saat Anita berbisik “Untukmu, Raka…”  pertanda persembahan cinta paling paripurna seorang perempuan atau hanya sekadar tersandera suasana romantis? Apakah benar kebersamaan antara dua insan berbeda dalam suasana sepi sering memerangkap salah satu berlaku primitif di luar nalar, sedang satunya lagi mengikuti begitu saja naluri dasar birahi manusia? Terlebih lagi, itukah cinta?

Raka tak peduli semua itu. Ia punya pemahaman sendiri untuk urusan satu ini.

Dulu ia merasa cinta paripurna itu adalah memberi, bukan meminta. Cinta yang berkorban, bukan yang menuntut, tidak berharap balas. Itu pemahaman masa lalunya.

Kini Raka ingin mencintai segala hal yang tak dapat dicintai. Ia ingin mencintai segala kerapuhan, kelemahan, dan kesalahan traumatik dari Anita, orang yang dicintainya kini. Bahkan ia ingin mencintai orang yang dicintainya itu dengan ancaman yang ditawarkannya, yang siap mengusik ketenangan hidup dan kemapanan batinnya. Pendeknya, ia ingin mencintai hal-hal tak terduga Anita, perempuan yang dicintainya itu.

Baginya, mencintai hal-hal yang sudah terduga seseorang bukanlah cinta sesungguhnya. Kecantikan lahiriah, sebagaimana dimiliki Anita, adalah hal-hal terduga. Akan tetapi tatkala jiwa Anita terguncang menjurus gila permanen dan perlu penyembuhan berminggu-minggu usai peristiwa traumatik batalnya pesta pernikahan, itulah hal-hal tak terduga dimaksud.

Raka mencintai Anita dengan hal-hal yang tidak terduga yang ada pada dirinya, dapat menerima sisi gelap dan kekurangannya yang tiba-tiba muncul belakangan. Semacam itulah.

Kini perempuan itu sudah hampir menghilang dari pandangan saat titian bambu terakhir sudah terlampauinya. Tetapi, peristiwa usai batalnya pesta pernikahan Anita dengan amtenar Johan membayangi pikirannya, sejuta kenangan menghampirinya…..

Hanya karena tubuh kokoh alaminya sajalah yang dengan mudah memundak Anita yang terkulai pingsan saat itu. Sungguh, sarung bermotif kotak-kotak itu telah melindungi tubuh Anita dari ketelanjangan yang polos. Selanjutnya ia membawa perempuan itu ke seorang ajengan, ustadz dengan doa-doa yang dimilikinya sering menyembuhkan orang kerasukan setan atau roh jahat. Tetapi untuk Anita, ajengan itu menyarankan agar dirawat di rumah, diberi doa-doa agar pikirannya waras kembali.

Kedua orangtua Anita demikian galau dan tak ingin anaknya kabur berkeliling kampung sebagai orang gila baru, apalagi pergi ke pusat keramaian yang konon sulit tersembuhkan. Itu akan berarti aib yang luar biasa besar bagi keluarga besar Natadipura, tuan tanah legendaris yang kini tinggal nama. Maka sebuah pasungan kayu telah dipersiapkan untuk “kesembuhan” anaknya. Anita harus dipasung.

“Tak perlulah Aden memasung darah-daging sendiri, biar aku yang merawatnya,” pinta Raka saat ketidakwarasan Anita mencapai titik puncaknya.

“Kami tidak ingin ia menjadi liar dan lari ke luar,” kata Sulaeman Natadipura, ayah Anita.

“Dan kau jangan cari-cari kesempatan dalam kesempitan ya, Penyadap Nira!” sela Romlah, ibu Anita. Sengit.

“Ketahuilah, Anita adalah temanku semasa SMA. Memang aku penyadap nira, tetapi tidak ada urusan dengan niatku menolong putri Aden sebagai sesama teman sekelas!”

Tamparan baru menghantam pasangan suami-istri itu seketika. Rupanya selama ini hati mereka berkabut, terselimuti oleh purbasangka yang tidak semestinya kepada pemuda penyadap aren ini.

Beberapa purnama lewat, mereka teringat, betapa mudahnya menerima amtenar kota bernama Johan bermalam di rumahnya, bahkan lewat sebuah sasmita berupa kedipan mata meminta Anita menemani tamu dari Jakarta itu tidur di kamar depan.

Hati suami-istri itu luluh bercampur rasa malu di depan pemuda si penyadap aren.

Hari-hari berikutnya adalah pengobatan spiritual sebagaimana disarankan ajengan. Atas permintaan Raka, perempuan itu tidak harus terpasung pada sebuah balok kayu lalu ditempatkan di dapur, melainkan cukup di kamar dengan kedua kaki terikat ke ujung ranjang besi tempat tidurnya. Ini pun terpaksa Raka lakukan demi keselamatannya sendiri, meski tidak tega juga.

Setiap malam Raka menginap di sebuah langgar dekat dengan kediaman orangtua Anita. Hanya jika Anita meraung-raung pada tengah malam saja Raka turun dari langgar dan membawakan air putih berisi doa untuknya. Kadang saat Anita terkulai kecapekan dan sedang berada di titik nol, Raka masih melihat betapa cantik wajah perempuan muda itu bahkan di tengah ketidakwarasannya. Sejauh itu, Anita tidak mengenali siapa yang mengobati dan mengurusnya setiap hari. Ingatannya telah hilang.

Jarak langgar ke rumah Anita tidak sampai sepelemparan batu, hanya terhalang beberapa rumah tetangga saja. Setiap usai shalat, Raka menyerahkan air putih dalam botol kemasan untuk Anita minum dengan satu keyakinan, Sang Maha Baik akan mengulurkan tangan-Nya. Sesekali Raka turut membersihkan kotoran Anita. Juga membersihkan bekas air kencing yang berbau pesing.

Itulah hakekat mencintai yang tak dapat dicintai, mencintai hal-hal yang tidak terduga.

“Sungguh hebat kau, Penyadap Aren, berharap mencuri perhatian di saat perempuan cantik itu sedang tidak waras,” kata seorang tetangga Anita usai sholat maghrib.

“Kalau perempuan itu waras, mana mau dia dipinang Tukang Gula,” kata pemuda lainnya.

“Dunia ini memang gila,” sindir pemuda lainnya.

“Ini langgar, tempat suci yang dipenuhi tulisan berupa ayat-ayat langit,” kata Raka tenang. “Sungguh tidak baik berprasangka seperti itu, Kawan!”

Para pemuda kampung itu bubar tanpa kata. Toh saat Anita berangsur sembuh dan hampir seluruh kesadarannya pulih kembali, Raka sudah pergi dan tidak pernah berada di tempat itu lagi, menghilang begitu saja bagai tertiup angin senja. Bahkan, Anita tidak pernah tahu siapa yang merawatnya selama ini…..

Dan…. Anita kini Anita sudah benar-benar lenyap dari pandangan mata. Namun kalimat-kalimat terakhirnya sebelum pergi masih terngiang kembali di telinga Raka.

“Dengan uang ini, aku akan ke Jakarta pagi ini.”

“Untuk mengadu nasib, sekalian melampiaskan dendam kepada para lelaki yang akan kucari dan kutemui nanti!”

“Aku memang berutang padamu, tetapi bukan berarti kamu bisa mengendalikanku!”

Raka ingin menutup telinganya rapat-rapat, tetapi suara Anita tetap terngiang sampai ia berhasil memanjat pohon aren yang pertama di pagi itu.

(Bersambung)

***

Anita sebelumnya:

Baca Juga:  Sepagi Ini, Perempuan Berkerudung Putih Itu Datang (Anita 9)