Romansa

Merugilah Orang Yang Berlari Kencang Memburu Waktu (Anita 11)

Fiksi, Cerber, Novel, Anita, Headline
Dua tahun berlaru demikian cepat di luar sana. Tetapi di desa di mana Raka mukim, waktu berjalan demikian lambat seperti siput dan ia menikmatinya sangat.

Bagi Raka, hidup mengalir seperti air sungai yang datang dari celah-celah perbukitan di hulu mengalir ke hilir tanpa skenario. Ia tidak punya naluri ikan salmon yang heroik menentang arus besar dari hilir ke hulu untuk melanjutkan keturunan setelah itu mati. Arus membawanya ke hilir, menuruni jurang curam, melabrak bebatuan dan aneka ragam kayu tumbang serta sampah berserakan di bagian hilir.

Jodo pati bagja cilaka adalah pepatah leluhur yang prinsipnya sama seperti air mengalir. Datang tanpa skenario, juga tanpa terduga. Setiap hal yang tak terduga adalah misteri. Perkawinan, kematian, kebahagian dan malapetaka adalah misteri kehidupan. Raka membiarkan misteri itu hadir tanpa harus mengusilinya.

Maka ketika kehidupannya beranjak baik, itu karena kebetulan dan kebetulan yang diraihnya. Juga bagian yang tak terduga itu. Kebetulan ada benda ajaib bernama henpon yang membuat pesanan air nira dan gula merahnya semakin deras mengalir. Ia tak menduga hasil jerih-payahnya dihargai orang; harga bagi penyadap nira tentunya.

Untuk memenuhi pesanan yang makin menderas, ia butuh tukang panjat nira baru. Ujang namanya. Kemampuannya belum setara dengannya, tetapi kehadiran pemuda tetangga itu cukup membantu. Tugas membuat gula merah diserahkan kepada Kaonah, perempuan muda anak seorang petani, yang kelihatan sudah mahir benar meski cetakan gulanya kadang tidak sama. Juga warnanya tidak seragam.

Dengan dua tenaga bantuan itulah produksi gula merah dan air nira Raka semakin dikenal di masyarakat luas, bahkan sampai menembus batas kecamatan. Karena pesanan semakin menderas, sebenarnya Raka tidak perlu lagi menyusuri tepian jalan raya memundak rancatan dengan dua tabung bambu menjajakan air niranya. Tetapi itu tidak selamanya memuaskannya. Keinginannya berjumpa dengan para pembeli adalah kesenangan tersendiri, mengalahkan kemalasannya.

Dengan cara berinteraksi dan bertatap muka langsung ia menjadi paham dunia, tahu perkembangan situasi terkini dari orang-orang yang dijumpainya.

Dunia Raka adalah dunia yang tidak tergesa-gesa, tidak diperbudak waktu yang melaju. Dunia yang santai, sebab ia membiarkannya mengalir. Waktu bukanlah binatang yang layak diburu, lebih menyerupai sekawanan burung kuntul yang terbang berarak ke satu tujuan membentuk formasi lancip di ujungnya.

Meski penting untuk hidup, materi bukan segala-galanya. Perputaran bumi terasa lambat dan sungguh nyaman dinikmati. Dengan berjalan lambat, apapun bisa dilihat dan dinikmati. Dapat dirasakan dengan tenang. Merugilah orang-orang yang berlari kencang memburu waktu!

Sampai pada suatu sore saat menunggu adzan Asar berkumandang selepas mengambil air wudu, seorang perempuan datang tergopoh-gopoh menggendong bayi usia sekira satu tahunan. Sukaesih. Ia datang tanpa Pendi. Raka paham, anak yang berada digendongannya adalah anak Pendi teman sekelasnya semasa di SMA beberapa tahun silam. Setahu Raka, Pendi mengadu nasib ke Jakarta setelah menikahi Sukaesih.

Kini perempuan itu datang tergopoh-gopoh bersama anaknya.

“Raka,” katanya saat nafas masih turun naik.

“Tenanglah, Esih, mari masuk terlebih dahulu!”

“Tidak perlu.”

“Anakmu cantik! Rasanya ia tidak perlu tahu emaknya cemas seperti ini.”

Waktu yang berlalu sekian lama membuat perempuan desa itu menjadi lebih dewasa, dengan anak yang digendongnya pula. Esih kemudian mengeluarkan benda ajaib. Henpon. Lalu memperlihatkan sebuah pesan. “Kamu baca ini!” katanya kemudian.

Semula ragu. Tetapi Raka menerimanya dan perlahan-lahan membacanya:

Esih, sahabatku, kalau kamu tidak keberatan… sampaikan pesan ini kepada Raka. Aku berharap ia masih mengingatku. Karena ini menyangkut hidupku, kuminta ia menjemputku malam ini di stasiun kecamatan. Malam ini. Saat pesan ini kukirim, aku sudah siap-siap naik ke gerbong kereta terakhir dari Jakarta…. Anita.

Raka menghela nafas panjang dengan tangan sedikit gemetar membaca rangkaian kata yang tertata dengan rapi itu. Mau tidak mau ingatannya terjebak kembali pada wajah itu, pada punggung, panggul dan pinggul padat serasi yang terakhir dilihatnya dua tahun lalu.

“Kamu sudah membacanya?” Sukaesih mengusik kenangannya. Raka mengangguk. “Kamu mau ‘kan menjemputnya malam nanti di stasiun?”

Raka tidak segera menjawab. Menyerahkan henpon itu pada Sukaesih.

“Kenapa harus aku?”

“Kurasa itu pertanyaan bodoh, Raka!” sambar Sukaesih. “Kamu seharusnya paham mengapa hanya kamu yang dia minta, bukan keluarganya dan bukan siapa-siapa untuk menjemputnya. Kamu sendiri, Raka!” Ada tekanan kata-kata tertentu pada kalimatnya.

“Dua tahun telah berlalu sejak ia terakhir datang kepadaku, mengapa ia masih mengingatku?”

“Itu pertanyaan yang lebih bodoh lagi kurasa, maaf!”

Beduk pertanda adzan Asar segera berkumandang sudah terdengar dari sebuah surau di lembah. Raka berniat pamit kepada tamunya. “Aku harus pergi solat, Esih.”

“Kuminta waktumu sebentar untuk kuceritakan tentang Anita di Jakarta selama dua tahun terakhir.”

“Dari mana kamu tahu tentangnya, Esih, sedang kamu tidak pernah ke Jakarta?”

“Benar. Tetapi Pendi suamiku menjadi buruh pabrik di pinggiran Jakarta,” tukasnya. “Dia tahu tentang Anita!”

Wajah Raka menegang, jantungnya berdebur seperti ombak Pantai Selatan di musim barat tatkala Sukaesih menyebut nama “Anita”. Namun sejauh itu, ia belum bereaksi. Yang membuat wajahnya tegang karena ia tidak pernah mengingat apa dan bagaimana hidup Anita di Jakarta.

“Kamu tahu, Raka,” kata Esih kemudian, “Anita tahu nomor henponku ini dari Pendi, yang memungkinkan dia bisa menyampaikan pesan ini kepadamu. Suamiku tahu semua tentang Anita. Aku menjadi tahu tentang Anita dari suamiku itu.”

“Kau mau menceritakannya, Esih?”

“Kamu mau mendengarnya!?”

(Bersambung)

Anita Sebelumnya:

Baca Juga:  Mencegah Perempuan Terperangkap dalam Pasungan (Anita 10)