Gaya

Mana Paling Menarik dari Banner Calon Gubernur DKI Jakarta Ini?

Calon Gubernur, Pilkada DKI Jakarta, Banner, Iklan, Headline
Banner Pilkada DKI Jakarta (Foto: Dzulfikar Al-Ala)
Dari sisi mana banner ketiga calon gubernur DKI Jakarta 2017 dianggap efektif, komunikatif dan paling menarik perhatian publik, khususnya calon pemilih?

Diskusi hangat terjadi dalam status Facebook terbaru saya pagi ini, Selasa 22 November 2016. Diskusi itu tentang mengkritisi spanduk atau banner calon gubernur DKI yang berukuran besar yang dipasang berdampingan di perempatan RS Medika Permata Hijau, Jakarta Barat.

Lumrah memang saat musim Pilkada, begitu banyak spanduk dan banner dengan foto calon gubernur dipasang di berbagai sudut ibu kota. Namun, banner yang berada di sudut jalan antara Kebayoran Lama dan Jalan Arteri Permata Hijau ini posisinya berdampingan, sehingga saya tertarik untuk memotretnya dan mengunggahnya di sosial media.

Jumlah banner sesuai dengan jumlah calon gubernur yang bertarung dalam Pilkada DKI Jakarta 2017 (lihat foto di atas). Posisi banner-nya pun berurutan sesuai dengan nomor urut pasangan calon gubernur DKI Jakarta 2017. Paling kiri merupakan pasangan Agus-Sylvi, paling kanan merupakan pasangan Anies-Sandi, sementara Basuki-Djarot diapit keduanya.

Bukan hanya saya tentunya yang tertarik untuk mengomentari desain dari ketiga calon pasangan gubernur DKI Jakarta 2017 ini. Beberapa teman dan netizen yang bukan teman di Facebook bisa bebas mengomentari status saya, lengkap dengan foto banner tersebut berada.

Mari kita lihat apa komentar mereka. Dwi Purwanti “A**rit…. Yang desain banner kurang ajar nih. Yang tengah kontrasnya dapet jadi eye-catching“. Dwi merupakan teman saya yang tergabung dalam sebuah komunitas fotografi. Ia berkomentar demikian karena pernah belajar tentang psikologi visual juga komposisi warna. Tak heran jika komentarnya demikian.

Namun yang menarik dan saya rasa cukup jujur nan berimbang dalam memberikan penilaian adalah komentar salah satu teman saya yang berlatar belakang seorang Arsitek.

“Buat desain yg no.1 pemilihan warna terlalu gelap.. terlalu kusam desainnya.. jadi terlihat samar dengan lingkungan sekitarnya.. kalau no.2 terlalu ramai dan fokus kepada foto calonnya terlalu kecil.. untuk ukuran dipasang di jalan yaa.. saya cenderung mendingan pilih desain yang ke 3.. bersih dan rapi desainnya.. untuk dipasang di jalan dengan terbatasnya waktu orang untuk melihat.. saya kira komunikasi banner ke 3 paling mudah di tangkap.” ujar Billie.

Tak kalah menarik, teman saya yang warga Tangerang Selatan aktivis blogger ini juga ikut memberikan penilaian.

Baca Juga:  Kenapa Si Doel lebih memilih Sarah dibanding Zainab?

“No 1 dan 3 tipikal kampanye era lama yg fokus di tokoh karena masih perkenalan dan fokus sama tagline karena masih menjanjikan…nomor 2 konsep dan desain kekinian karena fokus pada pesan utama “Kerja” dengan tidak menonjolkan sosoknya dengan ukuran foto lebih kecil dan komposisi juga konsep fotonya lebih fun kekinian…bukan. lagi tebar pesona.” kata Wardah Fajri yang pernah bekerja dengan latar belakang jurnalis.

Tak berbeda jauh dengan Wardah Fajri, Marlistya Citraningrum, salah satu Doktor termuda yang baru menyelesaikan kuliahnya di luar negeri ini berpendapat bahwa spanduk no 2 lebih berbicara tentang hasil kerja yang sudah dilakukan, berbeda dengan spanduk no 1 dan no 3 yang dinilainya kurang informatif.

Mungkin ada benarnya bahwa spanduk no urut 1 dan nomor urut 3 terlalu normatif dalam mempromosikan calonnya. Berbeda dengan nomor urut 2 yang “berbicara” banyak tentang program yang sudah berhasil dilakukannya. Dalam komunikasi media iklan, saya rasa spanduk no 2 cukup berhasil menyampaikan program jualannya.

Oke balik lagi ke desain. Coba kita analisa dan kita kritisi masing-masing banner tersebut dari kacamata awam.

Banner Calon Gubernur DKI Nomor Urut 1

Banner nomor satu menggunakan warna dominan hitam dan biru langit. Sementara background-nya menggunakan Monas yang merupakan ikon Kota Jakarta. Tagline-nya menggunakan warna oranye namun kurang mencolok karena diletakkan di posisi paling bawah.

Pemilihan warna dominan hitam yang gelap pun kurang pas karena ditempatkan di area terbuka. Apalagi disampingnya terdapat pohon rimbun yang menambah kesan gelap dan angker.

Penempatan huruf, angka, logo hingga objek utama sangat menentukan pesan yang hendak disampaikan dalam sebuah media iklan.

Potensi terhalangi lalu lalang kendaran jelas sangat besar. Sehingga tagline-nya tidak terbaca dengan jelas. Banner nomor 1 memberikan headline pada nama besar Yudhoyono. Dalam komunikasi media iklan, ini bisa sangat efektif jika tokoh yang dijual misalnya brand ambassador-nya memang memiliki karir sukses dan disukai audience.

Banner nomor 1 ini dapat ditafsirkan menunjukkan bahwa calon gubernur yang diusung memiliki kedekatan dengan suksesor sebelumnya di negeri ini.

Baca Juga:  Pak Kapolri dan Kisah Makar bin Makelar

Banner Calon Gubernur DKI Nomor Urut 2

Desain banner nomor urut 2 memang terlihat berbeda dari dua banner yang lain. Gayanya sudah kekinian. Headline yang ditonjolkan bukan nama calon pasangan melainkan satu kata yang bisa langsung ditangkap orang yang lewat yakni kata “kerja“.

Dalam komunikasi iklan, banner ini cukup berhasil menyampaikan pesan kepada audience. Tagline yang generik namun sederhana seperti ini bahkan tak lekang dimakan zaman. Setelah dulu digunakan Dahlan Iskan, kemudian Jokowi dan kini oleh Basuki Djarot.

Namun yang menjadi titik lemah banner ini adalah ukuran tubuh kedua calon terlihat tidak proporsional sesuai dengan ukuran banner. Apalagi dengan mudah dibandingkan dengan kedua banner lainnya.

Keberhasilan program yang ingin ditunjukkan kepada wargapun menjadi hal yang sia-sia karena penempatannya bertumpuk sehingga informasi yang ingin disampaikan terlalu banyak. Sangat tidak efektif bagi audience yang hanya bisa melihat kurang dari 3 detik.

Oh ya, ukuran waktu 3 detik ini diungkapkan salah satu rekan saya Imam Mahmudi yang cukup punya pengalaman dalam bidang Digital Marketing. Hasil diskusi tersebut saya baca dalam diskusi di grup Facebook Ahensi Ex Ahensi yang didalamnya tergabung beberapa personil agency dan mantan agency iklan di Indonesia.

Dibagian bawah jika di zoom, ada gambar sungai yang tampak bersih, kartu Jakarta Pintar, Transjakarta dan RPTRA.

Perlu diketahui pula bahwa Transjakarta pun sudah dimulai sejak era Gubernur Sutiyoso. Program ini kemudian dilanjutkan pada pemerintahan periode sesudahnya mulai dari Foke, Jokowi hingga Basuki.

Sedangkan RPTRA adalah singkatan dari Ruang Publik Terpadu Ramah anak yang sudah ada di hampir tiap kelurahan di Provinsi DKI Jakarta, seperti dikutip dari Qureta.

Informasi keberhasilan tersebut sebetulnya akan leih cocok jika disampaikan dalam satu media iklan terpisah dan tersendiri. Tidak dijadikan satu dan bertumpuk demikian rupa. Parameternya adalah audience hanya punya waktu 3 detik untuk melihat iklan outdoors.

mataharimallSebagai salah satu contoh saya tampilkan banner digital salah satu estore di Indonesia, yang bisa bisa dijadikan inspirasi media banner outdoors.

Dalam waktu kurang dari 3 detik Anda pasti bisa menangkap;

  • Produk yang dijual JELAS
  • Gimmick diskon BESAR agar membeli
  • Model (ganteng) terlihat jelas dari wajah hingga setengah badan menggunakan produk.
Baca Juga:  IDE MENULIS OPINI (5) - Mulailah dengan Oret-oretan Cakar Ayam!

Hanya dalam waktu kurang dari 3 detik, produk dan copy bisa ditangkap dengan audience dengan lengkap. Bagaimana?

Namun demikian, ceritanya akan berbeda jika banner nomor urut 2 dipasang indoors dimana audience bisa melihat lebih lama dari 10 detik.

Banner Calon Gubernur DKI Nomor Urut 3

Dari beberapa komentar yang masuk, banner nomor urut 3 lah yang paling efektif untuk dipasang di jalan raya. Pertama, proporsi tubuh calon pasangan pas dan tidak terlalu kecil. Kedua, tagline yang ditonjolkan simple meskipun masih sangat normatif sekali. Ketiga, bagian footer yang jelas pasti tidak terlalu banyak diperhatikan terlihat bersih, hanya ada nama lengkap calon pasangan yang sebagai cara untuk mempertegas nama calon pasangan.

Namun ada titik lemah dari banner ini. Saya sepakat dengan Ryo Kusumo yang berkomentar bahwa baju yang dikenakan calon pasangan kurang kontras. Karena warnanya sama dengan background yang digunakan yaitu berwarna putih.

Salah satu pemilihan baju yang pas dengan latar putih adalah banner nomor urut 2. Baju kotak-kotak terlihat sangat kontras dengan latar belakang banner yang didominasi warna putih.

Penutup

Dari ketiga banner yang ada nomor urut 2 unggul dalam desain kekinian dan tagline. Pesan kerja berhasil dan cukup kuat memikat audience yang melihatnya.

Sedangkan dari segi desain, komposisi warna dan penempatan teks dan foto, banner nomor 3 lebih baik dari pada dua banner lainnya. Tentu ini hanya pendapat saya pribadi sebagai audience yang memotret langsung ketiga banner tersebut.

Lalu, bagaimana dengan pendapat anda tentang ketiga banner tersebut jika dilihat dari komunikasi melalui media iklan banner di jalan? Silakan komen di bawah ya. Jangan lupa di share.

***