Sketsa

Hikayat Seorang Banci dan Debat soal Sholat Jum’at

Ibadah, Filsafat, Banci, Kehidupan, Headline, Salat Jumat, Agama, Islam
Foto ilustrasi film "Lovely Man"
Yang berhak menilai ibadah seseorang diterima-tidaknya oleh Allah, hanya Allah Sang Maha Pencipta yang mengetahuinya. Mengira-ngira pun manusia tidak bisa.

Kursi yang kosong di salah satu sudut gerbong kereta itu akhirnya kududuki. Maklum, kereta pukul 10 siang arah ke Bogor kurang begitu diminati lantaran semua orang sudah sibuk berada di gedung-gedung kantornya masing-masing tadi pagi. “Cari uang, buat masa depan,” begitu yang saya dengar.

Saya menaiki commuter tersebut dari stasiun Sudirman dengan tujuan akhir ke Stasiun Depok (baru). Hari ini saya memenuhi panggilan interview disalah satu perusahaan IT terkemuka dunia—yang membuka cabang di Indonesia, sehingga saya pulang lebih awal dari yang lain.

“Infonya diterima atau tidaknya akan kami informasikan via e-mail,” begitu kata salah satu pewawancara.

Selama perjalanan, tak ada kejadian aneh. Normal-normal saja, orang-orang bisa begitu cuek didalamnya, hingga ketika kereta memasuki Stasiun Cawang. Ada wanita, eh pria. Ah iya, pria yang menggunakan pakaian wanita berwarna hijau dan bersepatu high heels. Wajahnya dihiasi riasan tebal dan tangan kirinya memegang sebuah alat musik kecrekan. Iya duduk di sudut yang sama dengan saya, bedanya ia duduk di susunan kursi yang berbeda.

Orang-orang berubah sikap. Beberapa kedapatan saya liat dua-tiga penumpang yang berdiri atau duduk bersebelahan saling berbisik membincangkan si penumpang unik yang baru masuk tersebut. Hal itu saya ketahui ketika mata para tukang gosip tersebut curi pandang kepadanya.

Baca Juga:  Akhir Sepenggal Perjalanan Sejatinya Sebuah Langkah Baru Kehidupan

Jujur saja, saya juga tertarik melihat dengan memutar sedikit tulang leher ke arah si pria yang disebut orang-orang dengan istilah “Banci” karena syarat-syaratnya terwakili dengan ciri-ciri yang saya sampaikan di atas .

“Loh, ini ‘kan hari Jum’at. Apa sih mas ini (gak) sholat Jum’at?” pikirku.

Pertanyaan ini tiba-tiba saja muncul dibenak saya. Mungkin hal sama juga dirasakan bagi penumpang pria lain yang mungkin sedang mengejar waktu untuk jum’atan1. Ketika pertanyaan pertama belum terjawab, timbul pertanyaan selanjutnya. “Si Mas ini kok malah dandan seperti wanita, gak sholat Jum’atan dong? Dosa dong?”

Entah apa cuma saya atau tidak, sering kali hati ini dapat berdialog—semacam ada dua kubu yang pro-kontra. Di pihak yang lain (di dalam hati) pun ada yang berkata “Lah, emang situ Tuhan? Kok dengan mudahnya mengklaim si mas tersebut berdosa. Sudah, biar itu jadi kebijaksanaan Tuhan saja yang menentukan hamba-Nya berdosa atau tidak.” Setelah itu, kubu yang pertama yang mengklaim dosa pun menimpali “Lah dosa dong, liat aja itu orang memakai pakaian wanita, jelas haram. Terus udah mau Jum’atan, kok malah jadi Banci, mana bisa jum’atan kalo lututnya keliatan gitu”.

“Kalaupun ia berdosa, apakah kita jadi lebih baik darinya?”
“Maksudnya”
“Ia, apakah amalan kita lebih banyak dan lebih baik dari dia?”
“Loh jelas dong, saya kan mau pulang ini juga karena ngejar sholat Jum’at, ngejar ridho-Nya?”
“Lah memang bisa gitu mengapai ridho Tuhan bila masih berprasangka buruk terhadap hamba-Nya?”

Kira-kira begitulah dialog isi hati yang hampir setiap hari berdebat karena terbelah menjadi dua kubu. Bahkan, terkadang hal-hal yang sepele misalnya apakah memakai minyak rambut merk Pomade atau Gatsby, karena kebetulan saya memiliki keduanya.

Saya jadi teringat dengan celetukan Cak Nun di acara kenduri Cinta yang sering saya iktui di setiap awal bulan. Al-kisah, suatu saat Cak Nun pernah ditanya sama arek-arek (pengganti kata fulan dalam bahasa Jawa) “Cak, misalnya pada waktu bersamaan tiba-tiba sampeyan menghadapi tiga pilihan, yang harus dipilih salah satu, (1) pergi ke masjid untuk sholat Jum’at, atau (2) mengantar orang ke rumah sakit akibat tabrak lari, yang mana yang Cak Nun pilih?”

Baca Juga:  Mata Hampir Buta, Tangan Kanan Lumpuh, tapi Warni Tetap Memulung

Apa jawaban Cak Nun? Saya tak menyangka, ayah dari vokalis Letto, Noe itu memilih mengantar mengantar orang ke rumah sakit akibat tabrak lari, mengapa? Cak Nun pun menjawab “Ya nolong orang kecelakaan….!!” Jawaban tersebut pun kembali dipertanyakan “Lah, dosa dong kalo tidak sembahyang2?” kemudian Cak Nun pun kembali menjawab “Ah, masa iya Gusti3 Allah ndeso4 gitu,”

“Kalau saya memilih sholat Jum’at, itu namanya mau masuk surga tidak ngajak-ngajak. Dan lagi belum tentu Tuhan memasukkan ke surga orang yang memperlakukan sembahyang sebagai credit point pribadi. Bagi kita yang menjumpai orang yang saat itu juga harus ditolong, Tuhan tidak berada di mesjid, melainkan pada diri orang yang kecelakaan itu.” Sambung Cak Nun.

Cak Nun selalu memposisikan dalam kegiatan keagamaannya—yang disinergikan dengan acara seni—dengan sifat atau pendekatan diskusi logika. Buatnya, agama adalah soal akhlak, soal prilaku.

Saya setuju, saya pikir ibadah dalam agama adalah sebuah kewajiban. Dan yang namanya kewajiban itu yang harus dikerjakan tanpa perlu dipamerkan. Layaknya bernafas, nafas hakikatnya wajib, kalo tidak yah mati.

Di tengah renungan tersebut, saya pun asyik menggengam gawai sambil Facebookan. Disitu saya melihat ada tautan dari situs Detik, judulnya “Gus Mus Minta Karyawan PT Adhi Karya yang Hina Dirinya di Twitter Tak Dipecat”. Setelah membaca utuh, bukan hanya melihat link saja yang pun berkesimpulan: Nah, inilah contoh orang ber-akhlak, ketika dirinya dihina dengan kalimat yang kurang berkenan, tetapi beliau dengan mudah memaafkan dan menganjurkan agar si-penghina-ulama-lewat-akun-twitter tersebut agar tidak dipecat.

“Kalau ada yang menghina atau merendahkanmu janganlah buru-buru emosi dan marah. Siapa tahu dia memang digerakkan Allah untuk mencoba kesabaran kita. Bersyukurlah bahwa bukan kita yang dijadikan cobaan,” Ucap Gus Mus.

Sebelum turun dari kereta, saya pun berkesimpulan bahwa saya belum tentu lebih baik dari amal timbangan dari pada si mas yang sedari-tadi-duduk-dengan-posisi-kaki-menyilang tersebut. Siapa yang bisa menjamin bahwa saya lebih baik dari orang tersebut?

Duh, saya mah apah atuh, cuma hamba prasangka semata. Tidak usah jauh-jauh, di pria yang dikatakan orang banci tersebut justru mampu membantu negara dalam soal membuat lapangan pekerjaan. Dengan mengamen, ia mampu menghidupi dirinya sendiri.

Lah, saya S1 malah pengangguran justru malah membebankan negara. Si banci tersebut justru lebih mahir soal berdikari5 ketimbang saya atau orang-orang pintar di majelis terhormat yang berbicara soal kemakmuran rakyat tanpa pernah diimplementasikan secara nyata dan berdampak bagi orang banyak.

Baca Juga:  Hari Pertama

Sementara itu, sebagian pengikut ulama jadi sering “berkelahi” di pelbagai media, utamanya media sosial, ranah maya. Fenomena ini terjadi karena (sebagian) ulama justru memilih ikut serta dalam politik praktis yang pada gilirannya acuh pada keadaan umat sehari-hari.

“Ya Alloh, semoga cobaan ini segera berlalu. Semoga esok saya bisa kembali bekerja dan berkarya sehingga lebih baik dari hari ini dan kemarin. Amin” doa saya dalam hati sambil berlalu keluar dari gerbong commuter yang kemudian berlalu menghilang dan menelan penghuni kereta termasuk si banci di ujung garis perspektif yang kian jauh kian menyempit.

***

Stasiun Sudirman-Depok, Jum’at 25 November 2016

Keterangan:

  1. Sholat Jum’at, ibadah yang biasanya dilakukan lelaki musim yang sudah dewasa di Mesjid, hukumnya wahib
  2. Sholat
  3. Sebutan untuk Tuhan (atau yang dianggap Tuhan)
  4. orang kampung dalam Bahasa Jawa
  5. Berdiri Dibawah Kaki Sendiri, ungkapan fenomenal Soekarno tentang kemandirian sebuah bangsa