Aksara

Di Stasiun Ini, Kunanti Hadirnya Matahari (Anita 13 Tamat)

Fiksi, Cerber, Novel, Anita, Headline
Akhirnya yang dinanti datang juga, matahari yang meskipun sudah redup tersaput awan senja, tetaplah ia menyimpan cahaya kehidupan di dalamnya.

Cerber: Pepih Nugraha

Dengan menumpang sepeda motor ojeg milik kenalannya, Raka meluncur dari perbukitan itu menuju stasiun. Hari sudah menjelang petang ketika sepeda motor Honda CB-100 membelah angin, menelusuri jalan setapak yang dikepung daun ketela pohon dan daun jagung yang beberapa tangkainya rebah menutup sebagian jalan setapak. Berbekal senter, berbaju koko dan pantalon hitam sebatas mata kaki, Raka memegang erat pundak tukang ojeg yang melarikan kuda jepang itu dengan kecepatan mentok.

Kemanusiaan dan kekuatan dahsyat.

Kalimat itu demikian mengusik kesadarannya.

Aku berharap ia masih mengingatku. Karena ini menyangkut hidupku, kuminta ia menjemputku malam ini di stasiun kecamatan. Malam ini… 

Raka teringat kembali pesan yang ditujukan kepada dirinya melalui henpon sahabatnya.

Angin senja yang datang dari arah berlawanan tidak lantas merontokkan ingatannya akan Yuanita Handaruan. Anita. Dialah mantan teman sekelasnya yang sejak sekian lama telah menempati salah satu bilik khusus hatinya. Sejatinya bilik itu tidak pernah kosong dan selalu ada perempuan yang kerap hadir dalam mimpi-mimpinya. Angin kuat yang datang dari arah berlawanan itulah yang justru menyusup ke bilik hatinya yang terbuka.

“Untukmu… Raka.”

“Selain menyakitiku, kamu juga telah menghinaku, Raka!” 

“Kamu seharusnya sadar diri siapa kamu sebenarnya! Kamu tak pantas menolakku, paham!?”

“Ah sudahlah…! Kamu jangan pernah cari aku lagi, ya!”

Perempuan semacam itukah yang kini akan dijemputnya? Perempuan yang telah mengusirnya, perempuan yang kerap menghinanya, perempuan yang tidak tahu berterima kasih, perempuan yang tidak pernah menganggapnya sebagai manusia yang punya hati, perempuan yang tidak pernah mengeluarkan kata maaf, perempuan yang….

Terjadi pergulatan hebat dalam batin Raka yang entah kenapa selalu mengalahkan egonya sendiri. Atau Sang Maha Pengasih sudah mengaturnya demikian, selalu harus mengalah dan terus mengalah.

Soal kemanusiaan begitu lekat dalam prinsip hidupnya, meski terselip pertanyaan yang tak terjawab: cinta atau soal kemanusiaan-kah yang ada pada dirinya sekarang dengan perjuangan yang nyaris tanpa batas itu?

“Tak perlulah kuceritakan makna ‘kemanusiaan’ itu kepadamu sekarang, bukan waktunya.”

Terngiang kembali ucapan Sukaesih yang memberinya teka-teki beberapa jam lalu, sementara sepada motor ojeg sudah mendekati batas kota kecamatan setelah menerabas sepenggal rinai hujan dan berpayung awan gelap.

 “Dia dibui dengan tuduhan bersekongkol membunuh orang, membunuh Nyonya Pejabat! Kamu tahu, betapa gegernya kejadian itu di koran-koran dan televisi. Kamu boleh saja bilang Anita tidak mungkin bisa melakukan pembunuhan, tetapi hukum bicara lain!”

Ah, demikian pandai kau bercerita, Esih, sahabatku! Raka membatin.

Hidung sepeda motor sudah mencapai stasiun kecamatan, saat adzan Isya ramai berkumandang. Masih ada beberapa kereta api yang akan datang dari arah Timur, dari Surabaya atau Yogyakarta, menuju Jakarta. Tetapi hanya ada satu kereta api ekonomi yang datang dari Jakarta ke arah Timur, yang akan tiba jelang tengah malam nanti di stasiun kecil ini. Itu adalah kereta api terakhir. Kereta api terakhir yang Raka tunggu.

Cuaca sedang tidak bersahabat. Ini adalah musim hujan pertama setelah sekian lama kemarau mendera perkampungan di mana Raka tinggal. Kemarau yang merontokkan harapan ribuan petani bisa menuai padi akibat kekeringan yang membunuh bulir-bulir padi muda. Kemarau juga menenggelamkan harapan peternak ikan lele dan kakap air tawar karena balong tempat memelihara ikan mendadak kerontang menjadi tanah terbelah.Karamba, tempat memelihara ikan dalam sangkar bambu berbentuk kotak telah sejak lama kehilangan sumber air dari hulu, yang membuat bebatuan sungai tampak mencuat ke permukaan.

Permulaan hujan ini adalah berkah bagi petani dan peternak yang senantiasa menggantungkan hidup kepada kemurahan alam ini.

Dua jam lalu ketika kereta api patas dari arah Timur berhenti dan memuntahkan penumpang, Raka tidak peduli karena tidak akan ada seseorang yang dinantinya turun di sana. Tetapi, aktivitas dadakan muncul di sana. Berlangsung cepat.

Tiba-tiba ada tukang pikul barang yang menawarkan jasa, ada petugas perjalanan kereta api yang membawa-bawa benda berbentuk lingkaran dengan peluit tergantung di lehernya, ada peluk erat penunggu kepada penumpang yang turun dari titian besi… kemudian tangis pecah di sana. Tetapi ada juga suara cekikikan sepasang kekasih saat bertemu setelah sekian lama terpisah, barangkali.

Drama kehidupan berlangsung meski sekelebat. Setelah itu stasiun sepi kembali.

Satu-satunya penanda bahwa stasiun itu masih berfungsi adalah cahaya lampu neon dari jendela kaca chief, kepala kereta api. Para penjemput dan orang-orang yang menumpang kereta dari arah Timur itu sudah tidak nampak. Tak satupun. Mereka sudah berjuang mencapai rumah masing-masing. Baiti janati, rumahku surgaku.

Jelang tengah malam…

Sebuah cahaya kuat bersinar lurus dari kejauhan. Sinar itu mendahului suara mesin diesel kereta api yang semakin lama semakin bergemuruh. Itu pertanda kendaraan besi sudah semakin mendekat. Raka yang sudah terkepung kantuk sampai ngelangut, kemudian terbangun karenanyaAda beberapa orang yang kemudian muncul menjemput, mereka sudah siap-siap berjejer di tepian stasiun.

Gerimis sudah berubah menjadi bulir-bulir hujan. Suaranya berisik menimpa genteng stasiun, berbaur dengan dengus mesin kereta api. Raka tidak membawa payung, jas hujan, atau semacamnya.

Dengus mesin sudah semakin jelas terdengar tatkala kereta api itu sudah semakin melambat memasuki stasiun. Raka memicingkan matanya karena cahaya lampu kereta api sangat kuat bersinar. Bunyi rem yang merupakan perpaduan besi dengan besi terdengar menjerit memecah keheningan, berderak-derak akibat harus menanggung beban berat. Para penumpang mulai menuruni tangga kereta melalui pintu kiri badan kereta. Raka menjulur-julurkan lehernya seperti seekor jerapah. Belum nampak sosok yang ia cari!

Hampir semua penumpang sudah turun dan beberapa pintu kereta api sudah mulai tertutup kembali. Petugas perjalanan kereta api sudah akan mengangkat bulatan saktinya dan meniup peluit agar kereta api terakhir itu berjalan kembali menuju Timur. Raka memberanikan diri mendekati petugas itu. “Bapak yakin semua penumpang sudah turun?” tanyanya.

Tanpa menoleh sedikitpun, petugas perjalanan itu cukup mengangguk dan siap menyisipkan ujung peluit di antara dua bibirnya. Dengan gerakan tangannya ia meminta pemuda itu menjauh. Peluit itu menjadi penguasa atas masinis kereta api yang siap memberangkatan kembali kereta. Dengan menegangkan urat lehernya, kemudian mengempiskan perutnya, peluit kereta api siap menjerit keras ditiup sang petugas perjalanan.

Tetapi….

Belum selesai petugas itu melaksanakan pekerjaannya, mendadak ia melepaskan peluit dari bibirnya. Matanya menatap arah ekor kereta api di ujung sana, Raka kemudian mengarahkan pandangan ke arah yang sama. Rupanya naluri sebagai petugas perjalanan demikian terasah. Ia melihat seseorang tengah menuruni tangga gerbong paling belakang dengan susah payah. Terlihat sangat ringkih dan hati-hati saat menuruni tangga kereta. Tubuhnya terlihat membentuk silhuet berkat cahaya lampu yang menggantung di plafon ujung stasiun. Latar belakang hujan yang semakin besar membentuk tirai tebal. Di antara tirai hujan dan cahaya neon itulah sesosok perempuan turun.

Naluri membimbing Raka untuk segera berlari menuju gerbong paling belakang di mana perempuan itu sudah berdiri limbung. Peluit kereta api sudah terdengar dan kereta api pun sudah kembali menjalar, meneruskan perjalanannya ke arah timur Pulau Jawa. Perempuan itu masih limbung. Meski cahaya lampu neon di plafon ujung stasiun bersinar temaram, Raka paham betul siapa perempuan muda yang kini berada tepat berada di depannya.

“Anita…!!!”

Tak ada jawaban. Perempuan itu menunduk lesu. Sebuah buntalan kain menggantung di tangannya dan nyaris terjatuh. Tubuh limbung itu hampir rubuh bersamaan dengan jatuhnya buntalan kain. Entah darimana kekuatan dan keberanian itu datang, tanpa ragu Raka segera menyambut tubuh limbung itu dan menahannya agar tidak benar-benar ambruk.

“Kau harus kuat, Anita… Aku ada untukmu!” bisiknya.

Saat menyangga tubuh limbung itu, Raka segera paham…. Anita tengah berbadan dua!

Perutnya terasa sudah membuncit bangir, pertanda sudah hamil tua. Dengan hati-hati ia turut memegang perut bunting Anita, meski ia tahu perempuan itu bukan muhrim-nya. Tidak ada yang mengajari cara menyayangi seperti itu, semata-mata naluri kelelakiannya yang bekerja.

“Kamu tentu jijik melihat keadaanku seperti ini, Raka,” terdengar bisik Anita berbaur dengan gemuruh air hujan menimpa genteng stasiun. Raka tidak segera membalas dan terus membimbing tubuh ringkih itu ke muara pintu stasiun.

“Bukan saatnya kau bicara seperti itu, Anita,” katanya.

Raka terus membimbing Anita agar terus berjalan sedikit-sedikit.

“Bapak jabang bayi yang kukandung ini memang bajingan tengik, seorang pembunuh bahkan,” katanya kemudian. “Tetapi aku bertekad mau melahirkan dan membesarkan anak yang kukandung ini. Dialah kekuatan dahsyat bagiku yang mampu menjaga kewarasanku kendati aku tertekan, sangat-sangat tertekan.”

“Kau tak perlu banyak bicara, Anita, tenangkan dahulu pikiranmu!”

“Setidaknya kamu bisa memutuskan untuk segera menjauh dariku sekarang juga…Terima kasih kau sudah menjemputku. Aku sendiri merasa terlalu kotor buatmu, Raka.”

Raka tidak tahu harus berbuat apa. Hujan yang kian deras tak mampu membantunya menemukan kata-kata.

“Tidak, Anita,” katanya setelah sekian lama. “Aku akan melamarmu… Aku akan menikahimu segera setelah jabang bayi ini lahir.”

Mulut pintu keluar stasiun sudah berada di depan mereka. Hujan di luar menghadang langkah keduanya. Perempuan muda yang tengah hamil tua itu memeluk erat Si Penyadap Nira. Baru kali inilah air mata perempuan itu mengalir deras, sederas hujan yang masih turun di tengah malam ini.

“Raka…” katanya lirih. “Maafkan aku!”

(Tamat)

***

Anita Sebelumnya:

Baca Juga:  Punai Yang Terbang Tinggi Tetap Pulang Ke Sarang Juga (Anita 12)