Wacana

Ada Rencana Perang Besar di Belakang Pembebasan Antasari Azhar

Antasari Azhar, Pembebasan, Korupsi, KPK, Politik, Hukum, Headline
Antasari Azhar (Foto: CNN.com)
Pembebasan Antasari berkorelasi dengan misi besar memberangus korupsi yang pernah menjadi misteri, maka para lawannya sedang menyiapkan senjata balasan.

Di luar kehebohan isu dugaan penistaan agama yang dialamatkan kepada Basuki Tjahaja Purnama, isu lainnya yang cukup memikat perhatian publik adalah pembebasan Antasari Azhar. Ada sinyalemen yang menyebutkan bahwa keluarnya mantan ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ini menjadi awal untuk sebuah perang besar atas kasus-kasus besar korupsi yang selama ini kerap berakhir sebagai misteri.

Ada kepentingan di balik pembebasan pria berlatar belakang pendidikan di Universitas Sriwijaya tersebut. Namun harus dicatat, kepentingan dimaksud tidak selalu negatif. Sebab, dalam kacamata negara, Indonesia yang sedang berjalan dengan misi pemberantasan korupsi, upaya memberangus tikus penggerogot “lumbung padi” negara juga merupakan sebuah kepentingan.

Dari kacamata pribadi, saya tidak melihat bahwa pembebasannya hanya sekadar bagian drama “berbalas pantun” dengan satu sosok yang di dunia netizen acap digelar dengan sebutan “Pak Mantan”. Walaupun iya, saat Antasari dipenjara, kursi kepresidenan negara ini masih di tangan Pak Mantan tadi.

Patut dicatat juga, serentetan kasus korupsi terjadi di era Pak Mantan. Beberapa memang terungkap, namun lebih banyak lagi tidak terungkap. Setidaknya begitulah pendapat sebagian kalangan.

Apa hubungan dengan Antasari? Nah, di sinilah hubungannya. Sebab, berbagai misteri yang selama ini seperti mengambang saat Antasari mendekam di balik jeruji besi, diyakini hanya akan menemukan jalan keluarnya jika Antasari lebih dulu keluar. Tanpa dia, bukan tak mungkin, misteri akan menjadi misteri.

Baca Juga:  “Prihatin”, Satu Kata Yang Antasari Azhar Idam-idamkan dari SBY

Misteri di sini, sekali lagi berkaitan dengan korupsi. Berbicara korupsi maka berbicara figur, orang-orang, dari yang paling berpengaruh hingga mereka yang berusaha membuat rencana membongkar kasus korupsi besar menjadi keruh.

Ada drama besar, sandiwara, lengkap dengan berbagai skenario yang diyakini diciptakan oleh orang yang paling paham “ilmu drama”. Orang dimaksud, dengan ilmunya yang mumpuni dipastikan bisa membuat cerita misteri betul-betul menakutkan, hingga tak banyak orang yang berani masuk ke “ruang gelap” yang ada di sana.

Untuk bisa menembus ruang gelap itu, tentu saja dibutuhkan orang yang tak hanya sekadar tahu tapi juga memiliki keberanian yang tak mengenal ba-bi-bu. Antasari, menjadi orang yang diyakini memiliki keberanian memadai untuk itu.

Statusnya dengan latar belakang sebagai orang kejaksaan, perjalanan panjangnya dalam melawan pelaku tindakan korup, hingga ending perjalanan kariernya di KPK, meski dituding ternoda oleh tuduhan pembunuhan yang beraroma drama, tapi diyakini bahwa dia pemberani.

Apakah orang-orang di KPK saat ini tak cukup berani? Bukan. Terlepas keberanian yang juga dimiliki anggota KPK terkini, tapi persoalan riwayat masalah di era Pak Mantan, maka Antasari-lah yang dinilai paling meyakinkan –dari sisi pemahaman atas sengkarut masalah saat itu.

Lalu? Apakah Antasari akan dilempar begitu saja dan kembali terjun ke dunia yang berhubungan dengan hukum demi sebuah tujuan itu? Bukan mustahil, iya, bisa saja itu terjadi. Tapi tentu saja, bagi pemerintah atau pihak mana saja yang serius untuk sebuah “perang besar” itu, maka pertempuran dijalani takkan memadai dengan satu jurus.

Baca Juga:  Benarkah Partai Demokrat Mulai Meneror Antasari?

Begitu juga Antasari, kalaupun benar-benar dilibatkan sebagai salah satu pengatur strategi dalam perang itu, dia dapat ditempatkan dalam posisi apa saja. Yang jelas, dia akan dituntut untuk bergerak berdasarkan semua data dan pengetahuannya atas benang merah yang sempat menjadi benang kelabu saat dia terpenjara.

Peran Antasari kini, bukan mustahil akan jauh lebih vital dibandingkan saat dia berposisi sebagai Ketua KPK di masa lalu. Jika diumpamakan permainan, maka pergerakannya kali ini bisa saja jauh lebih fleksibel dibandingkan dulu.

Yang jelas, Antasari takkan bekerja sendiri, seperti juga lawan-lawannya akan terus melakukan konsolidasi. Namun salah satu pertanyaannya, siapa saja yang akan berdiri di belakang Antasari jika “perang” tadi betul-betul terjadi?

Presiden saja, takkan cukup. Lembaga tertentu saja, takkan memadai. Terpenting lagi adalah dukungan semua pihak, yang tak berkepentingan atas berlarut-larutnya masalah korupsi besar yang pernah terjadi di negeri ini.

Sebab dapat dipastikan, kalau kita yakini bahwa pembebasan Antasari ada korelasi dengan misi besar memberangus korupsi yang pernah menjadi misteri, maka para lawannya sedang menyiapkan senjata terbaik mereka. Dampak dari sana bisa sangat serius, apalagi juga para koruptor di negeri ini betul-betul bertabiat seperti tikus yang mampu dengan sangat cepat beranak-pinak; maka memberangus tikus itu akan menjadi pekerjaan sangat besar.

Sekarang, sinyal-sinyal yang mengarah pada perang itu kian terlihat. Dari bagaimana Antasari membeberkan berbagai hal-hal yang sekilas terlihat sederhana dan tak ada hubungan dengan persoalan besar tadi, hingga gerak catur yang sedang dimainkan oleh masing-masing pihak yang terlibat dalam rencana perang tadi.

Baca Juga:  Menunggu Nyanyian Antasari Azhar saat Bebas di Hari Pahlawan

Yang pasti, awal tahun depan, perang itu akan terlihat lebih serius daripada sekadar perang di media seperti terlihat akhir-akhir ini. Kenapa awal tahun depan? Karena tiga bulan menuju akhir tahun ini adalah bagian dari persiapan untuk pertempuran itu.

Sekali lagi, ini adalah persoalan perang antara manusia dengan para tikus; yang mungkin saja akan mengerahkan semua tikus, dari tikus rumah hingga ke tikus got. Jika manusia kalah, maka bangkai kita pun akan digerogoti mereka.

***