Gaya

Jangan Jadi Burung Pemakan Bangkai di Facebook!

Media Sosial, Facebook, Kandidat Presiden, Donald Trump, Pemilihan Presiden, Hoax, Headline
Di Amerika Serikat kredibilitas Facebook mulai dipertanyakan terkait banyaknya fitnah dan hoax yang dianggap memenangkan Trump. Bagaimana dengan Indonesia?

Sebagai pengguna sosial sejak tahun 2004, saya tetap percaya bahwa media sosial seperti Facebook atau Twitter bukanlah tumpukan sampah berbau busuk yang tak berguna, juga bukan “noise”, yaitu dengungan orang-orang yang tidak jelas keberadaannya (anonim) dan tidak ada manfaatnya sama sekali.

Saya percaya di medsos macam Facebook dan Twitter ini juga ada makanan menyehatkan gratisan yang siap disantap siapa saja. Ada “voice”, yakni suara-suara yang bermanfaat, yang mengabarkan informasi terbaru, suara membesarkan hati dan meninggikan semangat, dan suara-suara bermanfaat lainnya.

Persoalannya, di Facebook atau media sosial lainnya antara “noise” dan “voice” bercampur-aduk menjadi satu, antara daging segar dan bangkai saling berdekatan. Financial Times (FT) akhir pekan lalu melaporkan bahwa kemenengan Donald Trump atas Hillary Clinton dimungkinkan atau terbantu atas berita hoax dan ujaran kebencian yang bebas berkeliaran di Facebook.

trump-hillary-facebookDi Amerika Serikat, publik mulai mempertanyakan kredibilitas Facebook sebagai sebuah media sosial, media baru, yang katanya membawa pembaruan cara publik mengonsumsi/berbagi informasi. Konon, kemenangan Trump yang di luar dugaan itu cukup dengan membayar 40 penulis berbayar yang nilainya dihitung berdasarkan trafik. Mereka bekerja bukan di kantor mewah nan mentereng, cukup di garasi atau  basement sebuah bangunan saja, tetapi mereka bekerjasama dengan agensi iklan digital.

Menurut FT, sejumlah iklan besar via iklan digital ini ternyata masuk ke situs situs hoax tanpa diketahui si pemasang iklan atau biasa disebut “blindly following audiences”. Pertanyaannya, apakah di Indonesia praktik ini sudah berlangsung atau bahkan sedang berlangsung?

Jawaban saya; “ya”, tentu dengan varian berbeda. Artinya tidak sama persis dengan yang terjadi di AS sebagaimana dilaporkan FT. Di negeri sendiri, yang sudah terbongkar adalah membangun media fitnah (hoax) sefitnah-fitnahnya, meski bagi pengelolanya inilah jurnalistik lengkap dengan etikanya.

Orang yang bersedia membangun “media firnah” ini dimanfaatkan oleh satu kandidat presiden atau gubernur, misalnya. Jelas tidak ada lagi urusan dengan etika, wong kerjanya memutarbalikkan fakta.

Proses kerja jurnalistiknya pun minim, tidak perlu wawancara, tidak perlu penugasan, yang penting bagainya menyajikan “fakta” yang mereka punya dalam sebuah tulisan, meski sudah menyimpang dari fakta sebenarnya (plintiran) maupun fakta palsu yang sengaja dibuat. “Obor Rakyat” menjadi sangat fenomenal pada masanya dan pengelolanya masih berurusan dengan hukum.

Apa yang dilakukan Jasmev atau tim digital kandidat lainnya sama saja, meski mungkin tugasnya tidak sevulgar melancarkan fitnah telanjang, tetapi cukup menutupi kejelekan kandidatnya sendiri atau memoles citra kandidatnya sehingga tampak kinclong dilihat orang luar. Apakah Jasmev yang berafiliasi ke Joko Widodo atau Tim Cyber Digital Interest yang berafiliasi ke Prabowo Subianto melancarkan aksi menyerang (baca memfitnah) lawan? Dalam batas-batas tertentu mungkin saja, meskipun hal ini akan dibantah oleh masing-masing tim cyber.

Baca Juga:  Anomali Digital itu Bernama Facebook

Tetapi, yang terjadi sekarang ini, “media fitnah” alias hoax bisa dikerjakan tanpa harus berafiliasi dengan agen iklan atau kandidat, tetapi urusannya bisnis semata, seperti yang terjadi pada Pos-metro dotcom dan Nusanews dotcom yang sudah diblokir Kementrian Informasi. Kedua situs berita ini dikerjakan oleh dua mahasiswa di Sumatera yang dengan membangun media hoax semacam itu bisa meraup untung besar.

Karena berita hoax sangat digemari di negeri, maka kedua media itu menghasilkan trafik yang luar biasa besar. Trafik yang besar dikonversi Google Adsen sehinga dalam setahun bisa menghasilkan pasive income sebesar Rp600juta-Rp1M lebih. Menggiurkan!

Bagi pengguna medsos yang cerdas, tentu saja ia pandai membaui aroma informasi; mana daging segar mana bangkai. Secara nalari manusia, ia akan memilih daging segar. Tetapi selalu saja ada anomali di dunia ini, termasuk di dunia maya (Internet). Ada saja pengguna medsos semacam Facebook yang bertipe burung nasar (vulture) di mana yang dicari memang bangkai yang beraroma menyengat itu. Daging segar malah mereka lewatkan.

Di media sosial, “Vulture differentiate a good culture”. Itu kata saya.

Belum tentu kata Anda!

***