Sketsa

Kemarahan Taufik kepada Hamba Tuhan Sembilan Senti

Puisi, Sastra, Taufik Ismail, Rokok, Tuhan, Headline, Budaya
Penyair Taufik Ismail menunjukkan ketidaksukaannya kepada rokok dengan menulis puisi tentang rokok dan perokok yang ia sebut "Hamba Tuhan Sembilan Senti".

Di usia tuanya penyair Taufik Ismail punya hobi baru, marah-marah. Sebagai penyair tentu saja kemarahanya dituangkan dalam sejumlah puisi yang panjang-panjang, sebab kalau pendek bukan lagi marah namanya, tapi menahan amarah.

Di sebuah simposium yang banyak dihadiri oleh fans club PKI, Pak penyair tua ini membacakan puisi kemarahannya pada kelakuan buruk PKI. Tanpa dikomando fans club PKI berteriak-teriak mengusirnya. Ada yang berteriak seperti pengamat sastra bahwa yang dibacakan oleh penyair senior kita ini bukan puisi.

Mungkin bagi mereka puisi adalah kumpulan kata-kata indah yang bisa bikin hati adem seperti habis minum sirop dingin campur timun suri di bulan puasa. Atau mungkin puisi adalah kumpulan kata yang rumit, lebih rumit dari rumus ilmu hitung Muhammad bin Musa al-Khawarizmi. Pemilihan kata pada puisi Taufik Ismail yang tanpa polesan pemanis rasa bagi mereka tak lebih dari catatan harian anak sekolah yang baru diputuskan pacarnya.

Taufik Ismail
Taufik Ismail

Bukan hanya pada kelakuan buruk PKI saja pak Taufik menumpahkan kemarahannya. Pada perokok juga. Majas personifikasi yang digunakan tidak tanggung-tanggung. Pak tua kita ini menyebut para perokok sebagai hamba “Tuhan Sembilan Senti”. Padahal perokok dari kelas ringan sampai kelas berat, sebiji zarah pun tidak penah terpikir menjadikan rokok sebagai tuhan keduanya. Malah sebaliknya, penganut atheis menganggap Tuhan sebagai candu.

Sasaran kemarahannya ditujukan kepada siapa saja, dari berbagai macam profesi, latar belakang, pendidikan, sepanjang dia perokok maka pantas diberi stempel hamba tuhan sembilan senti;

Tuhan Sembilan Senti

Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok,

“Di sawah petani merokok,
di pabrik pekerja merokok,
di kantor pegawai merokok,
di kabinet menteri merokok,
di reses parlemen anggota DPR merokok,
di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok,
hansip-bintara-
perwira nongkrong merokok,
di perkebunan pemetik buah kopi merokok,
di perahu nelayan penjaring ikan merokok,
di pabrik petasan pemilik modalnya merokok,
di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,”

Baca Juga:  Jangan Jadi Burung Pemakan Bangkai di Facebook!

Beruntung sastrawan tidak disebut padahal menurut kabar, Khairil Anwar adalah perokok berat. Menurut hikayat pula, sebagian besar penggiat sastra adalah perokok. Orang-orang yang berkecimpung dalam dunia pendidikan termasuk yang tidak beruntung.

” Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok,
di ruang kepala sekolah ada guru merokok,
di kampus mahasiswa merokok,
di ruang kuliah dosen merokok,
di rapat POMG orang tua murid merokok,
di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya
apakah ada buku tuntunan cara merokok, ”

Pegawai kesehatan juga masuk daftar yang tidak beruntung, karena juga menjadi sasaran kemarahan pak Taufik

“Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok,
di apotik yang antri obat merokok,
di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok,
di ruang tunggu dokter pasien merokok,
dan ada juga dokter-dokter merokok, “

Kalau ada yang menganggap olahragawan tidak kena amarah penyair gaek ini, anggapan itu salah.

“Istirahat main tenis orang merokok,
di pinggir lapangan voli orang merokok,
menyandang raket badminton orang merokok,
pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok,
panitia pertandingan balap mobil,
pertandingan bulutangkis,
turnamen sepakbola
mengemis-ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok,”

Kalau kebetulan Anda adalah orang NU yang sangat menghormati para kyai, terserah Anda boleh marah pada Pak Taufik atau boleh juga bersabar sambil mendoakan agar Pak Taufik  afiyatan fil jasad wa shihatan fil badan. Ulama NU juga kena sasaran kemarahan penyair darah tinggi ini.

“Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh,
duduk sejumlah ulama terhormat merujuk
kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa.
Mereka ulama ahli hisap.
Haasaba, yuhaasibu, hisaaban.
Bukan ahli hisab ilmu falak,
tapi ahli hisap rokok.
Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka
terselip berhala-berhala kecil,
sembilan senti panjangnya,
putih warnanya,
ke mana-mana dibawa dengan setia,
satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya, “

Baca Juga:  Ummat Kian Terusik, Desakan Revolusi Mulai Merebak

Pemilihan kata “kitab kuning”  kitab yang biasa diajarkan di pesantren NU, dan “Haasaba, yuhaasibu, hisaaban” pelajaran Shorof yang menjadi menu utama pelajaran di pesantren NU, dan  “satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya” benda yang biasa digunakan untuk tahlil dan membaca 99 asmaul husna oleh ulama NU. Tidak cukup puas sampai disitu, Pak Taufik menyindir para ulama NU

“Jadi ini PR untuk para ulama.
Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok,
Lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan,
jangan,”

Bagaimana dengan ulama Muhammadiyah? Karena ulama Muhammadiyah sudah mengharamkan rokok, Pak Taufik memberikan apresiasi

“Rokok hukumnya haram!

25 penyakit ada dalam khamr.
Khamr diharamkan.
15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi).
Daging khinzir diharamkan.
4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok.
Patutnya rokok diapakan?”

Entah mengambil pendapat mazhab siapa soal keharaman miras karena 25 penyakit, dan keharaman daging babi karena 15 penyakit. Biarlah itu urusan Pak Taufik yang berijtihad menurut versinya. Juga biarlah urusan Pak Taufik yang tidak puas menyebut perokok sebagai Hamba Tuhan Sembilan Senti, masih ditambah lagi dengan kegeramannya pada orang yang sholat tapi masih belum berhenti merokok.

“Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri,
tidak perlu ruku’ dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini,
karena orang akan khusyuk dan fana
dalam nikmat lewat upacara menyalakan api
dan sesajen asap tuhan-tuhan ini “

Pada kesempatan lain, Pak Taufik menolak dengan keras ayat kretek sebagai warisan bangsa masuk ke dalam RUU Kebudayaan pasal 37. Menurutnya budaya merokok bukan budaya asli Nusantara, tapi budaya suku Indian.

Sebagai budayawan tentu Pak Taufik tahu selama manusia bisa bergerak ke sana kemari mengikuti arah angin atau melawan arah angin, tidak ada budaya yang benar-benar asli. Budaya adalah asimilasi dari berbagai budaya yang pada akhirnya menciptakan budaya baru.

Baca Juga:  Manekin Kebablasan

Musik topeng betawi yang kita akui sebagai salah satu kekakayaan budaya nasional, kalau kita mau mengorek-ngorek asal usulnya, tentu kita jadi gamang sendiri karen ada beberapa unsur musik etnis cinanya, tapi setelah jadi satu kesenian bernama Topeng Betawi, bahkan orang Cina sendiri mungkin tidak mengenalinya lagi.

Bukan cuma suku Indian, Moliere ( 1622–1673 ) dramawan besar Prancis dalam lakon “Don Juan” pada adegan pembukanya salah satu tokonya mengatakan, rokok adalah bahasa pergaulan. Mungkin suku Indian juga akan terheran melihat jenis rokok kita yang kita beri nama kretek. Buktinya rokok kretek menjadi barang impor yang konon kabarnya digemari oleh sebagian masyarakat Amerika dan Eropa. Dari jenisnya, di negara kita tercinta sekurangnya ada dua jenis rokok. Rokok kretek sebutan untuk rokok bautan lokal dan rokok putih sebutan untuk rokok impor.

Di bulan baik ini, semoga Bapak Taufik bisa lebih bersabar seperti Nabi Ismail. Karena Pak Taufik tidak merokok, maka marah-marah juga bisa mengganggu kesehatan.

Walaupun para ulama NU banyak yang menjadi perokok berat, tapi sehabis sholat mereka selalu mendoakan kaum muslimin dan muslimat baik perokok maupun tidak agar selamat dunia akhirat, selalu sehat wal afiat, dan mendapat rizki yang barokah seperti doa yang sering kita dengar ba’da sholat, “Allahumma inna nas’aluka salamatan fiddiini wadunya wal akhiroh, wa afiatan fil jasad washihatan filbadani waziyadatan fil ilmi wabarakatan firrizqi. “ Amin.

***

31082016