Gaya

Manekin Kebablasan

Manekin, Gaya Hidup, Headline, Budaya Pop
Patung hidup berupa "manekin manusia" sedang tren dan menjadi budaya pop. Salah satu cara untuk mengemukakan protes atau sekadar cermin budaya kekinian?

Kelimpungan itu seperti kehilangan sesuatu tapi tidak tahu kehilangan apa dan hilang di mana. Contohnya, jika misalnya ada sekumpulan massa di tengah kota. Salah seorang dari mereka berkata, “Siapa kita?”

Orang-orang saling pandang seperti baru menyadari selama ini mereka kehilangan tanda pengenal.

“Siapa kita?” suara orang itu bertambah keras

Orang-orang melihat ke dirinya sendiri berusaha keras mengenali dirinya sendiri

“Siapa kitaaaaaa?” suara orang itu bertembah keras. Nampak sekali wajahnya ketakutan campur putus asa

Orang-orang punya perasaan yang sama. Sekumpulan wajah cemas di tengah kota. Di pagi yang cerah.

“Siapa kitaaaa?” suaranya mulai serak

Orang-orang yang berolah raga jalan kaki dan naik sepeda merasa kasihan melihat sekumpulan wajah cemas dan putus asa itu. Salah seorang setengah berbisik pada temannya, “Padahal mudah saja jawabnya. Bukankah kita bangsa Indonesia?”

Bisikan itu terdengar samar oleh salah satu kumpulan cemas itu. Wajahnya mulai nampak cerah. “Hei, kita ini Indonesia!” Kecerahan itu cepat menjalar seperti bisikan beruntun. Pada orang terakhir menyisakan satu kata saja, “Indonesia”.

“Siapa kitaaaa?” kembali terdengar suara parau dari kerongkongan tanpa harapan.

Serempak orang-orang yang cemasnya mulai hilang menjawab, “Kita Indonesia!”

“Siapa kitaaa?”suara paraunya sedikit menghilang.
“Indonesia!”
“Siapa kitaaaa? ”
“Indonesia!”

Baca Juga:  Kemarahan Taufik kepada Hamba Tuhan Sembilan Senti

Mereka berjingkrak-jingkrak. Menari bersama. Flashmob. Seperti dikomando, mereka tiba-tiba kaku seperti patung dalam poisisi yang berbeda-beda, layaknya Mannequin Challenge. Ada yang menunjuk langit, ada yang mengepalkan tangan tegak lurus seperti petinju. Ada yang bersalaman seperti teman yang bertemu setelah berpisah dua puluh tahun.

Orang-orang yang berolah raga melihat pemandangan langka itu cukup terhibur. Mereka mulai mendekat. Ada yang foto bareng bersama sekumpulan patung hidup itu. Ada juga yang sekedar melihat-lihat seperti memilih pakaian yang diperagakan manekin.

Sekumpulan patung hidup yang lebih bernilai seni tinggi dibanding patung lilin di museum lilin Madame Tussauds yang cenderung formal, kaku, monoton.

Orang-orang mulai duduk-duduk santai di tengah patung Mannequin Challenge yang kebablasan itu. Mereka mulai bertanya satu sama lain perihal manekin tengah kota itu. Tapi tidak satu pun yang bisa menjawab.

Mereka adalah sekumpulan massa yang merasa ditinggalkan oleh saudara-sudaranya. Ketika jutaan saudaranya berkumpul di tengah kota, mereka kehilangan banyak teman dan orang terdekat.

Pandangan yang menakjubkan pertunjukan teater super kolosal  “Lautan Putih” membuat mereka seperti terlempar ke belahan dunia lain. Padahal kaki mereka masih berpijak di bumi yang sama. Mereka mulai kelimpungan.

Baca Juga:  Jangan Jadi Burung Pemakan Bangkai di Facebook!

Saudra-saudara mereka yang berada di lautan putih tetap merasa berada di bumi yang dicintainya, bumi tumpah darahnya. Seperti penari dalam satu pertunjukan tari kolosal di stadion olah raga. Para penonton di tribun atas mendapatkan sensasi taman bunga, tulisan, lambang, yang berubah warna. Bagi para penari tidak merasakan sensasi itu. Mereka hanya menari, berlari di rumput mengikuti arahan pelatihnya.

Matahari sudah di atas kepala. Manekin hidup itu belum juga meleleh. Orang-orang sudah mulai menyingkir ke taman-taman menyaksikan pertunjukan teater garda depan, Manekin Kebablasan.

***

10122016