Sketsa

Polisi Hebat Itu Bernama Aiptu Sutisna, Melawan Kekerasan dengan Diam

Dora Singarimbun, Aiptu Sutisna, Lalu Lintas, Kekerasan, Jakarta, Headline, Polisi, Hukum
Foto ilustrasi Tribunnews.com
Video Polantas Aiptu Sutisna yang diserang seorang perempuan pengemudi mobil menjadi viral di media sosial. Polisi itu mendapat pujian dan penghargaan.

Selasa pagi menjelang pertengahan Desember ini, satu drama menarik terjadi di jalan raya. Seorang perempuan bernama Dora Singarimbun, membawa nama salah satu lembaga tinggi negara, membentak hingga memaki seorang polisi yang sedang bekerja. Tak cukup itu saja, aksi menjurus kekerasan pun terjadi, dan korbannya justru polisi itu sendiri.

Polisi bernama Sutisna itu menuai sanjungan dari puluhan ribu netizen. Kemampuannya mengendalikan diri saat dirinya menjadi sasaran aksi tak mengenakkan di depan umum, mengundang kagum banyak orang. Bahkan lembaga Polri pun memberikannya penghargaan khusus. Sesuatu yang memang sangat pantas dia dapatkan.

Celakanya, bagi ibu dua anak yang menjadi pelaku aksi tak pantas itu, yang justru menjadi sasaran bully, baik berbentuk hujatan hingga makian yang tak kalah sadis dibandingkan yang diucapkannya kepada polisi tadi.

Hukum aksi-reaksi terjadi. Polisi bernama Aiptu Sutisna memilih berdiam diri dan membiarkan dirinya menjadi sasaran kekerasan verbal dan fisik. Dia tidak membalas. Tidak ada reaksi. Tapi reaksi itu justru lahir dari orang-orang yang  seketika jatuh cinta kepadanya.

Polisi Sutisna pun menjadi semacam idola baru.

Baca Juga:  Soal Aksi 212 Polisi Lebay, Ini 4 Prasyarat Terjadinya Makar!

Keteladanan. Itulah yang mampu diperlihatkannya, dan mampu memengaruhi alam pikir ribuan orang yang menyaksikan kesabarannya saat berhadapan dengan Dora.

Sutisna tak hanya telah memberi teladan kepada para aparat kepolisian lainnya tentang bagaimana bersikap ksatria, bersikap sebagai lelaki, dan bersikap sebagai manusia. Dia juga mengajarkan tentang kesabaran yang berbuah manis.

“Kalau pribadi saya, sebesar apa pun kesalahan orang, kalau minta maaf pasti saya maafkan. Mungkin Ibu Dora karena khilaf atau ada masalah. Alhamdulillahnya ketemu sama saya. Kalau ketemu yang lain, enggak tahulah apa yang terjadi,” ujar Sutisna, seperti dilansir KOMPAS.com.

Pelajaran yang dibawa olehnya itu menarik. Dia tak perlu harus berkhutbah atau menggurui siapa-siapa. Dia memberi pelajaran justru lewat diamnya.

Itu yang membuatnya kebanjiran simpati dari publik.

Iseng. Saya sempat melongok Instagram pelaku kekerasan kepadanya, Dora. Pagi hari keesokannya, akun jejaring sosial berbasis foto miliknya masih bisa diakses. Di sana ada foto-foto yang menunjukkan keceriaannya dengan teman hingga keluarga, tak terkecuali anaknya. Tapi, melihat lebih utuh, kegembiraan dipamerkannya di akun tersebut kontras dengan yang terjadi.

Ya, berbagai hujatan tertuju kepadanya. Hujatan yang, sekali lagi, betul-betul tak kalah dibandingkan makian yang dia lontarkan kepada polisi yang sedang bertugas di tengah terik matahari menjelang siang.

Satu sisi, Dora memang memanen follower hingga ribuan hanya dalam hitungan satu hari. Sebuah “berkah” yang bagi sebagian orang harus menggunakan tenaga mesin tertentu untuk menyedot jumlah follower. Dia mendapatkan begitu saja.

Tapi justru di situ juga terlihat bahwa berkah dan musibah itu berdekatan.

Bagaimana tidak, saat follower-nya mendekati angka 5 ribuan, jumlah sumpah sumpah serapah tertuju kepadanya justru puluhan ribu. Di situ, saya pribadi mencoba membayangkan, bagaimana publik yang marah bertindak. Tak butuh waktu lama bagi sosok Dora sejak mempermalukan polisi yang sedang bekerja, dia menuai hal yang juga berkali lipat memalukan.

Satu persatu komentar di akun Instagram perempuan asal Sumatra tersebut saya baca. Tak ada simpati, kecuali hanya dari kalangan saudaranya saja, yang berusaha menetralkan suasana. Tapi pembelaan dari satu-dua orang terlalu lemah untuk menangkal serbuan ribuan orang.

Baca Juga:  Apa Penting dan Perlunya Berpikir Minoritas?

Menjelang tengah hari, saya mendapati akun Instagram Dora pun dikunci, tak dapat diakses lagi, kecuali dengan menjadi follower-nya, dan itupun  jika dia berkenan menerima.

Tampaknya dia harus mengambil langkah itu, sebagai satu-satunya cara membentengi akunnya dari banjir makian. Sesuatu yang awalnya pastilah tak disangka-sangka olehnya.

Aiptu Sutisna saat menghindari aksi kekerasan dari pengendara perempuan yang membawa nama lembaga tinggi negara - Gbr: KOMPAS.com
Aiptu Sutisna saat insiden itu terjadi- Gbr: KOMPAS.com

Aiptu Sutisna yang awalnya menjadi korban terobati dengan sikap hormat dari masyarakat yang merindukan figur polisi yang bisa menjadi teladan. Sebuah penghargaan yang sangat pantas dia dapatkan atas kemampuannya bersabar, dan tetap menghormati perempuan sekalipun dia sedang menjadi sasaran dua kekerasan sekaligus; fisik dan verbal.

Polisi ini menyindir kita dengan cara sangat bijak. Kita dibuat tersadar, acap kali cepat kehilangan kontrol dan lekas kehilangan kendali atas diri sendiri, saat mendapati hal-hal yang tak  menyenangkan. Kita acap kali merasa pantas membalas dengan hal setimpal saat sebuah perlakuan buruk terjadi kepada kita.

Kita menjadi masyarakat yang terlalu gampang marah, tersinggung, dan bahkan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kesempatan menyalurkan kemarahan itu. Tak jarang  hanya agar kemarahan itu tak terlihat buruk, kita mencari dalih hingga membawa-bawa agama bahkan Tuhan yang dipersepsikan membolehkan marah untuk hal-hal tertentu.

Baca Juga:  Saham Sari Roti, Humor, dan Religi yang Jatuh

Sutisna berbeda. Ini polisi istimewa. Pangkatnya yang terbilang rendah jika dibandingkan para perwira di jajarannya, tak membuatnya bersikap rendah. Anggota polisi satu ini justru menunjukkan sebuah sikap yang bahkan belum tentu mampu dijadikan sebagai kepribadian seorang perwira tertinggi sekalipun.

Menarik. Karena lagi-lagi dia menyampaikan pesan-pesan yang membawa pada hal-hal yang memuliakannya sebagai manusia, tanpa harus menggurui.

Itu menjadi hal penting, terlebih di tengah tradisi kekinian di mana seseorang yang dipandang “guru” pun kerap kali hanya dapat berkata-kata dengan bahasa terindah, namun tak mampu menyatukan keindahan itu ke dalam perilaku. Sedangkan Sutisna, sama sekali tidak menabur kata-kata seperti puisi, kecuali hanya dalam aksi yang dapat diyakini berasal dari nurani. Itu kemudian yang memuliakannya.*