Wacana

Jakarta, Rumah Tangga yang Terlalu Ribut

Dua figur yang pernah dinilai sama-sama keras - Gbr: Kompas.com
Dua figur yang pernah dinilai sama-sama keras - Gbr: Kompas.com

Saya sedang membayangkan berbicara Pilkada DKI yang akan berlangsung tanpa perlu menyebut nama. Alasannya sederhana, jika obrolan saya buruk bisa berpengaruh buruk ke mereka, sedangkan jika baik pun belum tentu mereka bisa memastikan efek baik ke masyarakat.

Ya, rasa skeptis inilah yang sempat muncul di benak saya. Terlebih jika saya terlihat condong ke satu nama atau satu pasangan, riwayat caci maki di jejaring sosial bisa berlanjut.

Bukan soal bahwa saya bisa menjadi korban, sebab urusan dicaci maki itu sejujurnya sudah kenyang saya telan—sebagian mentah-mentah sebagian setengah matang. Tapi berusaha turut membantu orang-orang yang terlalu bernafsu di Pilkada DKI untuk ikut lebih sabar, terasa sebagai sebuah tantangan juga.

Bukan apa-apa, sih ya. Sekarang, jika berbicara Pilkada DKI, maka satu kata paling menonjol dan yang paling mewakili atmosfer ajang demokrasi itu adalah “kemarahan”.

Gilanya lagi, kemarahan itu menular ke mana-mana. Mereka yang tak berkepentingan dengan Pilkada di sini pun terkesan menjadi lebih saleh jika sudah ikut-ikutan marah menyorot masalah di kota ini.

Itulah bagian dari fakta tak terelakkan, sekaligus keunikan kota ini. Mungkin itu bukan sesuatu yang aneh, karena ini adalah ibu kota, yang menjadi ibu bagi kota ini sendiri sekaligus ibu bagi negara bernama Indonesia.

Menjadi ibu dari dua anak itu tidak mudah. Apalagi jika anak-anaknya pun memiliki anak-anak yang begitu beragam karakternya.

Baca Juga:  Ummat Kian Terusik, Desakan Revolusi Mulai Merebak

Sebagian anak-anak memang masuk kategori baik—jika melihat dari kacamata keluarga; kalaupun bandel takkan berujung anarki. Saling tendang dan tonjok sekadar untuk main-main tak masalah, namanya juga anak-anak.

Persoalannya, sangat banyak dari anak dan cucu si ibu itu yang terlalu baper,  di mana semua yang terjadi bisa dibikin jadi masalah. Sekedar tersandung sedikit saja terkena pintu, adiknya yang lebih kecil justru disalahkan. Padahal, si kakak itu jangankan luka, benjol pun tidak.

Alasannya cuma, bahwa guelah ber-body paling gede. Yang kecil, ya minggir. Prinsip khas anak-anak ini juga menular. Jadi, dari semua anak dan cucu si ibu itu, acap kali yang berbadan ­gede-gede yang justru paling sering mencuri perhatian.

Mereka yang gede itu tak cukup menjadi perhatian karena body yang memang gede. Mereka ingin mencuri perhatian dalam segala hal, tapi justru lemah dalam hal pola pikir, pengelolaan emosi, dan kemampuan menahan diri. Jadinya, yang kecil-kecil hampir selalu menjadi sasaran sikutan hingga tendangannya, atau jika tidak maen ancam.

Baca Juga:  Pak Hakim, Jangan Lindungi Oknum Penista Agama!

minoritasAndai saja sikutan dan tendangan itu betul-betul sekadar canda gurau saja, tidak sampai berujung cekcok, banting piring dan gelas, dan main ancam bakar rumah. Persoalannya sekarang, ancaman dilakukan si body gede kian menjadi-jadi, tak hanya ingin membakar rumah, kepala rumah tangga pun jadi sasaran ancaman mereka.

Mereka masih beruntung, si kepala rumah tangga masih mampu melihat tingkah polah anak-anaknya dengan sudut pandang kebapakan. Dia hanya menegur, dan nyaris tak mau menggebuk.

Mungkin si bapak tak ingin terlihat sebagai bapak tiri. Tahu sendirilah, bapak tiri itu identik dengan hal-hal menyeramkan; menganiaya hingga memerkosa anak tiri seperti telah menjadi hal yang tak berdosa.

Maka itu, dia ingin memosisikan dirinya sebagai bapak yang lembut di depan anak-anaknya. Tapi, ada saja di antara anak-anak berbadan besar yang berusaha seperti memancing kemarahan bapaknya. Tahu sendiri, jika dengan tersandung daun pintu tadi, adiknya sendiri pun disalahkan, apalagi jika dipukul, wah sedunia bisa dipekakkan oleh teriakan mereka.

Jadi, Jakarta ini sedang menjadi sebuah rumah yang menarik, tak hanya berisi kegaduhan penghuninya, tapi juga para tetangga dekat rumah hingga terjauh pun terlalu genit untuk turut memanaskan kota ini. Entahlah.*