Wacana

Fitsa Hats, Ini Potensi Bisnis Islami yang Bisa Mengancam Pizza Hut

Politik, Islam, Headline
Kata "Fitsa Hats" yang dimaksudkan sebagai Pizz Hut, merek pizza yang populer di Tanah Air, menjadi kata yang "ngetop" karena peristiwa politik.

Sangar. Itu sudah menjadi semacam brand yang melekat pada organisasi bernama Front Pembela Islam. Mereka juga acap dianggap sebagai organisasi yang  identik dengan kekerasan. Ah, padahal mereka juga punya selera humor yang mampu dipentaskan dengan sangat serius, kok.

Ya, Fitsa Hats menjadi salah satunya. Nama itu sejatinya melekat dengan satu gerai pizza yang tersebar luas di Indonesia, namun meluncur di pengadilan seserius kasus yang digadang-gadang beraroma penodaan agama.

Sontak Fitsa Hats menjadi viral. Orang-orang membicarakannya di mana-mana. Termasuk saya.

Yang berbeda, saya lebih tertarik melihat itu dari kacamata humor, alias kacamata yang bisa bikin siapa saja nyengir jika mungkin sedang puasa tertawa. (Tapi, tetap lebih dianjurkan untuk memilih tertawa, karena guncangan tawa lebih membantu untuk menjatuhkan kacamata kuda).

Bagaimana tidak, gara-gara terlalu serius berbicara “penistaan agama” yang dilemparkan kepada Basuki Tjahaja Purnama yang dituding sebagai pelaku, Jakarta dan bahkan Indonesia seperti para penderita sakit gigi. Nyaris tak ada senyum, bahkan dalam obrolan di media sosial.

Baca Juga:  Jakob Oetama, Nama Yang Melegenda dalam Dunia Jurnalistik dan Media

Lagi, termasuk saya. Ya, yang mirip penderita sakit gigi itu. Jadi bukan Anda saja.

Bagaimana tidak sakit gigi, jika guyon-guyon saya di media sosial terkadang berujung pada berbagai rekomendasi-rekomendasi yang berpotensi bikin sakit hati.

“Mungkin kamu sakit jiwa!”
“Sepertinya kamu sudah gila!”
“Akidahmu dangkal!”
“Kamu sudah menjual agama!”
“Kamu sesat!”
“Kamu liberal!”
“Kamu murtad”
“Kamu harus melakukan syahadat ulang!”

Entah sudah berapa banyak saya menerima pesan-pesan itu, nyaris tak terhitung. Penyebabnya, karena saya memilih posisi sebagai penyeimbang, bahwa dalam kasus apa pun, mbok ya, kita umat muslim yang kita klaim “berbody besar”, berjumlah besar, kuat, tak perlulah unjuk kekuatan dan pamer kemarahan.

Ajakan itu acap diklaim sebagai bukti bahwa saya sudah menggadaikan akidah. Ini yang sering bikin saya ingin mengajak orang-orang yang gemar menuding itu untuk bertandang sesekali ke Kantor Pegadaian, yang dapat dipastikan tak menerima “akidah” sebagai sesuatu yang dapat digadaikan.

Itu analogi. Begitulah selayaknya diumpamakan.

Gbr: Newsth.com
Gbr: Newsth.com

Gara-gara marah, karena tersinggung, akibat sakit hati, jangankan yang berbeda agama yang tak lagi merasa tenang berada di tengah umat muslim, yang  sesama muslim pun tidak bisa selayaknya saudara seagama yang bisa berdebat secara santun dan berakhlak.

Terlalu banyak yang memilih menempatkan orang-orang yang bersikap netral sebagai orang yang tak memiliki semangat keislaman. Alhasil, saat Fitsa Hats booming pun, yang bersedia mengenalkan lagi “merek” yang belum terdaftar tersebut digoblok-gobloki dan dikafir-kafirkan.

Padahal, andai mereka bisa menenangkan emosi sejenak, tak hanya mereka akan tercegah dari darah tinggi dan potensi stroke, melainkan mereka juga bisa menemukan ilham dan ide untuk bisnis baru.

Baca Juga:  Kaleidoskop 2016: Dari Kasus Yuyun, Jessica, hingga Ahok

Misal, nih, buka kek gerai baru bernama Fitsa Hats untuk menyaingi pizza yang konon milik kafir. Rekrut saja karyawan muslim yang selama ini telah  bekerja di Pizza Hut agar mereka tidak “menggadaikan” akidah seperti selama ini kerap dilempar kepada yang memilih realistis.

Siapa tahu, karena kita umat muslim mampu mendatangkan jutaan umat dalam sekejap, hanya lewat pamflet kecil dan media sosial, gerai Fitsa Hats itu  kelak maju jaya dan menguasai pasar pizza di Indonesia.

Kemudian, karyawan yang tadi terancam “menggadaikan akidah” karena bekerja di tempat milik kafir,  kini bekerja di Fitsa Hats, sebagai sebuah perusahaan yang punya hubungan dengan aksi bersejarah 212, kan bisa digaji dua-tiga kali lipat.

Itu prestasi. Ada potensi agar umat Islam di negeri ini bisa terdorong untuk lebih berprestasi, paling tidak bisalah menyejahterakan kalangan sendiri dulu, alih-alih berpikir seperti “perusahaan kafir” yang selama ini mempekerjakan orang dari semua kalangan.

Baca Juga:  Polisi Hebat Itu Bernama Aiptu Sutisna, Melawan Kekerasan dengan Diam

Sayangnya, kita yang sama-sama ber-KTP Islam di negeri ini, pada hari ini, lebih banyak mengumbar emosi daripada prestasi. Sementara kita sejatinya sadar, apa yang tertulis di KTP itu tidaklah cukup menjadi bekal saat kelak berdiri di depan Tuhan, dipertanyakan tanggung jawab.

Saya, sebab kita yang menjadikan pilar “percaya pada hari akhir” sebagai bagian dari rukun iman, semestinya perlu juga mengingat, “Seberapa bermanfaat hidupmu pada sesama manusia sepanjang hidupmu?”

Atau jika tidak, “Menurutmu, sikapmu semasih hidup dulu, benar-benar bikin umat manusia jadi lebih dekat kepada-Ku, atau kamu yang justru bikin mereka makin jauh dari-Ku karena kamu cuma mendikte mereka bahwa Aku cuma bisa marah-marah?”

Apa yang bisa kita jawab nanti? Apa kita juga akan menuduh-Nya ikut-ikutan membela kafir?

***