Wacana

Pesan Positif Kunjungan Raja Salman ke Indonesia

Raja Salman, Arab Saudi, Politik Internasional, Indonesia, Basuki Tjahaka Purnama, Kunjungan, Headline
Jabat tangan Raja Salman
Kedatangan Raja Salman dari Arab Saudi demikian sangat menghebohkan, menyita perhatian publik, akankah membawa manfaat nyata bagi Indonesia?

Kedatangan Raja Salman bersama ribuan kalangan dekatnya ke Indonesia menjadi salah satu berita terheboh di Indonesia. Maklum, setelah lebih 40 tahun, baru kini ia kembali ke negara yang kini dipimpin Joko Widodo. Pertanyaan paling sering bermunculan, terutama di jejaring sosial hanya berkisar; “Ada apa di balik kunjungan itu?”

Berbagai spekulasi bermunculan, dan bahkan tak sedikit yang melampaui fakta yang sebenarnya. Banyak juga yang menjadikan kunjungan Raja Salman sebagai komoditi politik, entah untuk menaikkan satu pihak atau bahkan menjatuhkan pihak tertentu.

Baca Juga:  Fitsa Hats, Ini Potensi Bisnis Islami yang Bisa Mengancam Pizza Hut

Tampaknya adagium bahwa berbagai fenomena dan isu dapat menjadi senjata politik, kian dikuatkan dengan fenomena yang terjadi di tengah kunjungan penguasa Arab Saudi tersebut.

Terlepas dari berbagai kepentingan itu, masih ada hal positif yang masih dapat dilihat objektif. Dari sikap terbuka Raja Salman  kepada Jokowi, dari kehangatan yang terjalin antara keduanya, hingga kehadiran Basuki Tjahaja Purnama di sela-sela mereka.

Itu menarik, lantaran Basuki alias Ahok selama ini cenderung di-branded oleh sementara kalangan sebagai penista agama, sebagai figur yang melecehkan Islam. Branding itu sendiri nyaris sepenuhnya terbukti dilakukan karena kepentingan politis, bukan karena hal cukup urgen, sehingga jutaan umat Muslim termobilisasi karena meyakini mereka sedang membela agama.

Sedikitnya, kedatangan Raja Salman turut membantu mendudukkan perkara pada tempatnya, dan meletakkan sesuatu pada posisinya.

Baca Juga:  Romantisnya Antasari Azhar, Nembak Dua Cowok Sekaligus di Hari Valentine

Kesediaannya mengulur tangan kepada Ahok bukan sekadar uluran tangan biasa. Kelasnya sebagai seorang raja yang memiliki kekuatan  telik sandi alias intelijen, pasti sudah memetakan siapa-siapa yang akan bertemu dengannya. Selain pihak penyambut–presiden RI dan kalangan pejabatnya–pasti mengabari siapa-siapa yang akan menyongsongnya saat di bandara nanti.

Tahu berbagai rumor yang selama ini dilempar kepada Ahok, tapi bersedia berjabat tangan, cukup menjadi sinyal–terlepas besar kecilnya sinyal itu–bahwa Raja Salman bertipe terbuka dan tak termakan begitu saja dengan propaganda dibangun kalangan garis keras yang  gencar melakukan berbagai agitasi.

Di sinilah, pesan penting itu muncul, bahwa ada hal besar yang memang besar, tapi tak perlu lagi membesar-besarkan hal-hal kecil.

Terutama kepada kalangan garis keras yang juga dipastikan “tunduk” kepada Raja Arab ini lantaran berasal dari “Kota Suci”, pesan itu bermuatan sangat serius; bahwa keseriusan berislam tidaklah diukur dari kemarahan berlarut-larut, tapi sejauh mana bisa menghargai sesama manusia dengan serius. Siapa pun dan bagi agama manapun, selalu pantas dihormati, seperti halnya Raja Salman yang tetap menghormati Ahok yang bagaimanapun tetaplah masih menjadi pemimpin DKI.*