Sketsa

Rudy Badil, Wartawan Petualang Kompas Yang Saya Kenal

Sosok, Biografi, Rudy Badil, Headline, Harian Kompas, Wartawan
Rudy Badil adalah wartawan petualang yang akrab dengan alam dan kehidupan manusia tradisional. Pendiri Warkop ini dikenal luas oleh Wanadri dan Mapala.

Rudy Badil adalah wartawan legendaris Harian Kompas. Sama sepert kartunis GM Sudarta, nama Rudy Badil adalah “ikon” Kompas untuk penulisan budaya dengan bahasa tutur yang memikat. Di kalangan junior-junior Kompas seperti saya, “Mas Badil”, demikian kami memanggilnya, adalah wartawan petualang sekaligus petualang wartawan. Hampir seluruh pedalaman Nusantara boleh dikata pernah diobok-oboknya, dari Jawa, Kalimantan, sampai Papua.

Saya mengenal nama Rudy Badil jauh-jauh hari karena kebesaran namanya itu, karena reputasinya. Sebelum masuk Harian Kompas sebagai jurnalis –yang dalam salah satu sesi penulisan feature dia adalah pembimbing saya juga– saya mengenal nama Rudy Badil karena beberapa kali disebut oleh Soe Hok Gie dalam buku Catatan Seorang Demonstran, buku yang diterbitkan LP3ES tahun 1983. Buku yang diberi kata pengantar oleh Daniel Dhakidae (yang kemudian menjadi boss Litbang Kompas) ini tidak akan pernah saya lupakan saat saya membacanya di tahun 1985.

Kala itu saya masih mahasiswa tingkat pertama dan terkagum-kagum dengan catatan harian seorang aktivis macam Soe Hok Gie sehebat itu dan beberapa kali dalam catatannya Soe menyebut nama Rudy Badil sebagai anggota Mapala, Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Indonesia yang sering diplesetkannya menjadi “mahasiswa paling lama”.

Barulah ketika saya diterima sebagai pustakawan di Pusat Informasi Kompas (PIK) Mei 1990, saya mengenal lebih dekat dan lebih personal sosok Rudy Badil. Sebagai pustakawan, saya sering “diganggu” oleh Rudy Badil yang kerap meminta literatur sebagai bahan penulisannya yang mendalam tentang topik yang akan dibahasnya. Sedikit cerita tentang saya, yang pada tahun 1990an itu sebenarnya ingin langsung menjadi wartawan Kompas, tetapi akhirnya saya harus menempuh jalan panjang dan berliku (a long and winding road, kata Beatles) sampai pada tahun 1995 cita-cita saya kesampaian.

Lalu apa kaitannya rentang waktu tahun 1990 sampai 1995 dengan Rudy Badil? Inilah sedikit rahasia yang baru kali ini saya ungkapkan setelah saya tidak lagi bekerja untuk Harian Kompas, setelah bekerja selama 26 tahun sampai 1 Januari 2017 lalu!

Sebagai pustakawan, saya demikian lahap menyantap berbagai buku baru maupun lama yang menjadi kekayaan PIK yang luar biasa itu. Dari buku terlarang seperti koleksi Pramoedya Ananta Toer sampai ensiklopedia yang jarang dibuka orang, saya baca dengan antusias. Risalah dan makalah dari berbagai lembaga penelitian tidak terhitung, semua menjadi makanan sehari-hari saya. Saya membenamkan diri dalam tumpukan informasi yang sangat-sangat berharga. Demikian banyak ilmu yang mengendap dalam otak, lalu agar tidak membeku saya menulis artikel untuk Harian Kompas dan…. dimuat. Amazing!

Saya menulis dengan gaya pendekatan feature karena saat itu saya belum paham penulisan jurnalistik. Tidak terhitung pula banyaknya tulisan saya yang dimuat Kompas sebelum saya menjadi wartawan, tetapi karena sudah menjadi karyawan saya tidak mendapat honor lagi. Bukan itu yang saya kejar, nama Pepih Nugraha bisa termuat di Harian Kompas itu saja sudah luar biasa bagi saya. Pada saat yang bersamaan, sekitar tahun 1991-1993, Rudy Badil didapuk sebagai Pemred Majalah Intisari dan ketika berpapasan di sebuah selasar, Rudy Badil yang sudah mengetahui saya karena sering meminta informasi PIK, menyapa saya.

Baca Juga:  Indepreneur Pintar Memanfaatkan Internet, Indipreneur Tidak Selalu

“Pep, elo nulis feature di Kompas bagus tuh, bantu gue dong nulis di Intisari!” katanya. Saya jelaskan, bahwa tulisan saya beberapa kali dimuat Intisari. Tetapi Rudy Badil bilang, “Kurang….!! Banyakin tulisan lo di Intisari, ga bakal rugi!”

Dan…. tulisan saya di Intisari periode 1991-1994 sudah tidak terbendung. Bahkan saking “ga enak ati” sama pembaca dan teman-teman sekantor karena terlampau sering nama Pepih Nugraha muncul, saya menggunakan nama samaran antara lain Ayev Ehfa, King K. Laban (Kingkilaban dalam bahasa Sunda itu lintang kemukus), Tania Dewi (nama adik saya) dan beberapa nama samaran lain yang saya lupa. Tetapi artikel saya yang bikin genre Intisari kemudian adalah soal fenomena alam yang ganjil, misterius, tetyapi bukan klenik atau tahayul, karena referensinya buku-buku ilmiah. Judul artikel itu adalah “Hujan Ikan”, sebuah fenomena yang banyak terjadi di berbagai tempat.

Setelah “Hujan Ikan”, muncul tulisan saya tentang Frankenstein, UFO, lukisan Nazca, sosok Erich von Daniken, Vampire, dan lain-lain, yang semuanya berasal dari buku-buku PIK yang saya baca itu, khususnya ensklopedia 8 jilid berjudul “The Unexplained”. Dengan menulis di Intisari, saya mendapat honor Rp200.000 per artikel, suatu jumlah yang besar karena gaji bulanan saya sebagai pustakawan PIK kala itu masih Rp600.000. Ditambah dengan honor menulis cerpen di Majalah HAI (Rp100.000) dan Bobo (Rp35.000), apa yang saya dapatkan dari menulis untuk majalah di lingkup Kompas-Gramedia itu saja sering lebih besar dari gaji bulanan hahaha….

Setelah saya tidak menulis lagi untuk majalah di lingkup KG pada tahun 1994 karena saya sudah menjadi wartawan Kompas, penulisan tentang suatu fenomena alam yang belum terungkapkan itu kemudian dilanjutkan oleh Intisari sebagai genre (sebutlah rubrik) tersendiri, sampai beberapa tulisan saya tentang fenomena alam yang tidak biasa ini dibukukan oleh Intisari. Barulah pada akhir tahun 1994 saat saya mengikuti pendidikan wartawan Kompas, Rudy Badil adalah mentor untuk penulisan feature news.

“Mas Badil” adalah nama besar, setidak-tidaknya menurut hemat saya. Saat Gramedia Film memproduksi sejumlah film layar lebar di tahun 1970-an (yang kemudian saya tonton belakangan), Rudy Badil ternyata sudah jadi “bintang film” juga meski sebatas cameo. Tetapi bahwa nama Rudy Badil bersama Nanu, Kasino, Dono dan Indro adalah pendiri Warkop mula-mula, saya sudah mengetahui dari ceritanya sendiri. Justru nama trio Dono-Kasino-Indro baru gabung belakangan. Mereka ini memang anak-anak UI yang suka ngocol. Tetapi Rudy Badil cabut dari kelompok ngocol itu dengan alasan demam panggung dan banting stir menjadi wartawan Kompas.

Nama Rudy Badil juga sering disebut-sebut trubador Indonesia legendaris, Iwan “Abah” Abdulrahman, dalam berbagai pementasan yang saya ikuti baik di Bentara Budaya Jakarta maupun di tempat lainnya. Kerap Abah Iwan menyebut begini, “Satu nama yang tidak boleh saya lupakan adalah nama Rudy Badil, dialah yang pada tahun 60-an kerap menjelajah hutan bersama. Bedanya dia Mapala, saya Wanadri.”

Baca Juga:  Antara Presiden Soekarno dan Putri yang Tertukar

Rudy Badil adalah mahasiswa Sastra/Antropologi UI (kalau tidak salah sama dengan Soe Hok Gie). Belakangan Rudy Badil menulis tentang Soe Hok Gie yang kemudian dilayarlebarkan. Saat saya bekerja di Gedung KG Palmerah Barat, saya kerap menjumpai Rudy Badil yang jalannya sudah dibantu tongkat nongkrong di Cafe Javaro. “Mas Badil” kena stroke ringan di awal tahun 2000-an saat saya bertugas di Makassar (jadi saya hanya mendengar kabarnya saja). Tetapi tahun 2006, Rudy Badil purnakarya sebagai wartawan Kompassetelah 32 tahun bekerja. Benar, dia pensiun sebagai wartawan Kompas, tetapi sebagai penulis Rudy Badil malah lebih produktif dengan menulis sejumlah buku!

Meski tidak tahu berapa persisnya usia Rudy Badil, saya bisa memperkirakan usianya kini sekitar 71 tahun. Hitungannya sederhana, saat pensiun 2006 usianya 60 tahun (karena peraturan Kompas begitu). Jika sekarang sudah memasuki tahun 2017, tinggal tambah 11 saja sehingga kira-kira usianya sudah di atas 70 tahun. Rentang usia panjang yang tidak sia-sia dan banyak membawa manfaat bagi orang banyak, setidak-tidaknya bagi saya pribadi.

O ya, sebelum mengakhiri tulisan tentang “Mas Badil” ini, dia memanggil istri saya (sebelum resign dari bagian Umum Kompas tahun 2013) yang dikenalnya dengan sebutan “Memih” (padahal istri saya bernama Tantri). Kenapa memanggil istri saya “Memih”, itu gara-gara nama saya “Pepih”. “Lha kalau ada Mamih-Papih, mestinya ada juga Memih-Pepih dong,” katanya suatu waktu. Sisa-sisa ngocolnya masih tersisa.

Sebulan yang lalu saya bertemu Mas Badil di Cafe Javaro, tempat dia ngopi di Gedung KG Palmerah Barat. Saya menyalaminya dan ia tampak sudah semakin layu dengan tongkatnya. Saat berpisah, Mas Badil berpesan, “Salam buat Memih di rumah, ya!”

Baca Juga:  Adakah Kekhawatiran Setelah Anies Baswedan Memenangi Pilkada DKI Jakarta?

***