Wacana

Jonru dan Saracen, Belajar Menjaga Diri Tetap Waras

Jonru, Saracen, Hoax, Media, Headline, Berita, Media Sosial, Jonruah Ginting
Jonru (Foto: Boombastis.com)
Jonru tidak bisa disamakan dengan Saracen, sebab Jonru bukan Saracen. Tetapi dalam memproduksi berita "hoax", mereka punya kesamaan dan banyak pengikutnya.

Apakah ciri dasar para penyebar hoax atau berita bohong? Jika mereka dituduh balik sebagai pelaku, mereka akan menganggap itu fitnah, bahkan mendramatisirnya sedemikian rupa sebagai lebih kejam daripada dibunuh. Bagaimana mungkin? Ya, karena pada dasarnya para penyebar dan penikmat kabar hoax adalah kaum inferior. Mereka adalah masyarakat yang selalu kalah dan selamanya rendah diri.

Jangankan kepada orang lain di luar komunitasnya, pada lingkarannya sendiri mereka sebenarnya tidak saling mempercayai. Di dalam komunitas “kaum inferior” sangat mudah terjangkit penyakit delusi, “dunia seolah-olah”. Seolah-olah mereka adalah khalifah di muka bumi, seolah mereka pewaris ajaran yang paling benar, seolah mereka sudah berkuasa dan seterusnya.

Realitasnya mereka adalah masyarakat yang satu-satunya tropi yang mereka menangkan adalah “juara lari dari dunia nyata”. Keluar dari pahitnya kenyataan hidup.

Di titik inilah, sebenarnya saat mereka diberi panggung atau kala diwawancarai atau (yang terburuk) tertangkap. Mereka akan menjelma menjadi manusia yang paling butuh perhatian dan pengertian. Bukan saja karena umumnya rerata mereka tidak eye catching, tapi mulut mereka sudah sebengkok kelakuannya.

Mereka akan mudah membelak-belokkan setiap statement tanpa ukuran dan tarikan yang jelas. Mereka akan mudah lupa, dengan apa yang dikatakannya bahkan hanya beberapa jam sebelumnya.

Namun pada kelompok seperti inilah, para think-tank politik, mereka yang menamakan diri konsultan pilkada, penasehat kebijakan, atau tim pemenangan menumpukan harapan. Mereka ini semahal-mahalnya biaya, tetaplah cara yang paling murah dan mudah membentuk opini negatif. Karena tak beda dengan para preman jalanan, mereka mudah dimanipulasi dan sebaliknya para pengguna jasanya sedemikian mudah mencuci tangan mereka bersih sekali.

Dalam konteks demikian, Jonru dan Saracen bekerja dan mencari uang. Bedanya, kalau Jonru ini sejenis pemain free-lance selalu memposisikan dirinya independen, orang suci dan penyuara kebenaran. Ia tak malu tampil di muka publik, bahkan akan sangat bangga berfoto dengan tokoh idolanya. Bedanya, walau pernyataannya banyak di-share, justru tak satu pun penggemarnya ingin berswafoto ria dengan dirinya.

Baca Juga:  Melihat Kemungkinan Adanya Sertifikasi "Halal" MUI di Pilkada DKI

Sebaliknya, sejatinya kelompok seperti Saracen ini banyak, mereka sesungguhnya tidak terlalu peduli ideologi, agama mereka ya hanya uang. Mereka akan bekerja sesuai pesanan, dengan ketrampilan hacker yang sebenarnya minimal. Mereka adalah peretas golongan paling rendah, dengan penguasaan logika berpikir dan tata bahasa yang juga sama rendahnya. Hebatnya cuma satu: mereka bisa memaksa para pengguna jasanya membayar sangat mahal.

Di sini menjelaskan kenapa mereka demikian mudah membangun jaringan dan tak lelah melalukan gempuran.

Adakah manfaat dan pelajaran dari mereka? Banyak, karena dari merekalah, kita bisa belajar menjaga diri tetap waras, berhati-hati menggunakan mulut dan menekan papan ketik laptop atau smartphone, dan memilih posisi yang lebih “mulia” untuk diri sendiri.

Untungnya kita memiliki contoh Presiden seperti Joko Widodo, yang dibesarkan di kota Solo yang sudah terbiasa dengan budaya kisruh dan rasan-rasan. Hoax sebenarnya hanya pencanggihan dari kultur gosip dan desas-desus. Kalau ada yang baru mereka para pelakunya tanpa sadar diberi panggung untuk ngomyang tak karuan. Hanya untuk menunjukkan sebagaimana kata Akbar Faisal: mereka ini manusia apa sih?

Bagi saya yang lebih perlu dikasihani adalah mereka yang pernah atau masih mempercayai berita-berita palsu dan bohong itu!

Jonru dan Saracen.

***