Sketsa

Benny Moerdani dan Perjuangan Awal Gerakan Radikal Islam

Sejarah, Headline, Benny Moerdani, Afganistan, Taliban, Politik Luar Negeri, Indonesia, Orde Baru
Benny Moerdani
Benny Moerdani dinilai sebagai tokoh "anti" Islam pada masa Orde Baru. Benarkah ia yang justru menjadi perjuangan awal gerakan radikal Islam di Indonesia?

Seberapa baikkah negara kita, di mata kita sebagai rakyatnya? Tak pernahkah ia berbohong pada warganya? Kita tak pernah sadar bahwa nyaris selama 32 tahun di bawah Orde Baru, walau notabebe kita adalah negara bebas aktif dan nonblok, tapi sebenarnya kita tak lebih negara “kacung” Amerika.

Tak terhitung, berapa kali setelah Soekarno jatuh, “rakyat” dikadali oleh negara hanya untuk menjadi bemper kepentingan Amerika. Jangankan di dalam negeri, saat bumi Irian (kini Papua) yang diperas habis kekayaan emasnya, dengan semula hanya bilang di sana ada tembaga. Contoh “penghisapan”, seperti ini terus berlanjut karena sebagian warga inteleknya justru menjadi kolaborator yang ikut menikmati.

Dalam konteks, politik pun demikian, kita diminta AS untuk menganeksasi Timor Timur. Dengan susah payah dan penuh nasionalisme, kita jalankan atas nama membendung bahaya komunisme dari Blok Timur. Tapi apa balasannya? Mereka bukan saja justru berbicara HAM, tapi bahkan mengembargo RI dengan berbagai dalih. Sikap tidak tulus AS ini, yang kemudian justru menjadi penyebab utama lepasnya Timor Leste menjadi negara merdeka.

Sikap pemerintah Orde Baru ini, setelah nyaris 30 tahun terungkap lagi. Bahwa kita pun menjadi aktor yang ternyata menjadi sponsor awal untuk perjuangan kaum Mujahidin di Afghanistan untuk membendung pengaruh Soviet.

Dalam dokumen yang sudah dibuka setelah berumur 25 tahun lebih, terungkap adanya operasi rahasia yang dinamakan Flying Carpet, namun kemudian disamarkan dengan Operasi Permadani Terbang. Tapi karena mungkin para aktornya orang Jawa, dinamakan Operasi Babot Mabor. Huruf O di sini harusnya ditulis dengan U, menunjukkan bahwa mereka para perancangnya berasal dari etnis Jawa pesisiran yang biasa mengganti vokal “u” dengan “o”.

Baca Juga:  Siapa Gerangan Aktor-aktor Politik Yang Dimaksudkan Presiden Jokowi?

Operasi ini dilakukan untuk memenuhi permintaan AS, yang tak mungkin bergerak aktif membantu gerilyawan di Afghanistan karena mereka baru saja mengalami kekalahan pahit di Vietnam. Kenapa Indonesia yang dipilih? Karena Indonesia memiliki banyak cadangan bekas persenjataan dari Soviet, sisa-sisa dari periode Orde Lama. Dimulailah pengumpulan senjata AK 47 dan berbagai persenjataan lain “atas nama” peremajaan. Konon bagian paling sulit dari operasi ini adalah menghapus nomor registrasi yang ada pada setiap senjata.

Karena sensitifnya operasi ini, semua hal dirancang dengan sangat rahasia, bahkan pesawatnya pun dipilih pesawat carter tanpa identitas. Rute tempat tujuannya pun dipilih Rawalpindi, dengan tempat transit yang aneh di Pangkalan Militer Inggris di Diego Gracia. Bahkan semua penjabat Kedutaan Besar RI di Pakistan pun tidak tahu adanya operasi ini.

Mengapa hal ini mungkin terjadi, tentu saja karena ada tokoh bernama Benny Moerdani di belakangnya. Di masa Orde Baru, nyaris tak ada kegiatan intelijen yang lepas dari tangan dia. Konon, bahkan penyebab jatuhnya Orde Baru juga tak lepas dari campur tangan “otak jenius”-nya.

Sejarah, Headline, Benny Moerdani, Afganistan, Taliban, Politik Luar Negeri, Indonesia, Orde Baru
Benny Moerdani (Foto: Kaskus.com)

Di sinilah absurdnya, BM yang dinilai tokoh anti Islam justru menjadi perjuangan awal gerakan radikal Islam. Operasi berjalan lancar, dan dimulalilah perjuangan kaum Mujahidin di Afghanistan. Artinya apa? Kita jugalah yang turut memulai “aksi terorisme”, yang dari sanalah muncul organisasi yang lebih radikal seperti Taliban, yang di kemudian hari berkembang sebagai Al-Qaeda dan terakhir dalam kelompok tanpa peradaban bernama ISIS.

Kita turut berperan menghancurkan Uni Soviet, karena ambisi tololnya menguasai Afghanistan, sehingga mereka malah kehilangan lebih banyak negara bagiannya di Asia Tengah, juga di Asia Timur. Afganistan menjadi kunci awal kehancuran Soviet, justru dengan senjata-senjata yang mereka produksi sendiri. Tragis dan ironis!

Baca Juga:  Saat Pilkada DKI Jadi Panggung Dangdut Segolongan Warga

Tanpa ketulusan dan saling mengkhianati adalah ciri sebuah negara (mana pun dan dimana pun). Dulu kita ditolong Soviet saat pembebasan Irian Jaya, dengan senjata yang sama kita meruntuhkannya.

Di usia 72 tahun kemerdekaan ini, kita kembali berusaha keras menjadi negara independen, bukan dalam arti merdeka. Tapi hanya berayun menjaga keseimbangan.

Mari merayakan hari kemerdekaan yang sampai ke angka 72 dengan kesadaran bahwa merdeka dalam konteks negara dan warga itu sebenarnya hanya semu belaka.

Sudah makin tua, merdeka tapi disuruh kerja, kerja, kerja yang makin keras dan berat!

***