Wacana

Reaksi Berlebih di Dalam Negeri Indonesia terhadap Krisis Rohingnya

Krisis Kemanusiaan, Rohingnya, Pengungsi, Myanmar, Politik Luar Negeri, Indonesia, Retno Marsudi
Pengungsi Rohingnya (Foto: Paltoday.ps)
Tanpa banyak cakap, pemerintah Indonesia sudah melakukan langkah nyata terhadap krisis kemanusiaan Rohingnya. Warga sendiri tidak banyak yang mengetahuinya.

Saya tidak tertarik lagi mengulas sejarah Rohingnya, itu sudah basi dan bagi yang sukar memahami ya selamanya tidak akan mudah mengerti apalagi berempati secara positif. Saya lebih tertarik menyikapi reaksi internal dalam negeri dari berbagai kalangan yang berbeda.

Minimal saya menemukan empat reaksi yang berbeda.

Pertama, ini reaksi paling esktrem. Maunya pemerintah kita segera mengirim pasukan untuk membela kaum Rohingnya.

Sikap seperti ini mudah diduga muncul dari kalangan Wahabi, yang inginnya kita meniru gaya “panutan” mereka, Arab Saudi, untuk menggempur Kelompok Houthi di Yaman yang notabene Syiah dan didukung Iran. Hal ini di samping muskil, juga pasti akan memicu konflik yang lebih besar yang tak ada gunanya. Setahu saya, setelah kunjungan Raja Arab yang heboh dan hedonis itu, Indonesia belum lagi jadi “kacung”-nya.

Kedua, pemerintah diminta menyediakan pulau untuk menampung para pengungsi Rohingnya.

Ini sikap yang lebih moderat, tapi berbau sangat Orde Baru. Ingin meniru cara Presiden Soeharto menolong para “manusia kapal” dari Vietnam, yang negaranya memang sedang dilanda perang saudara yang dahsyat. Dulu hal ini dimungkinkan, karena (hal ini yang tidak banyak orang tahu), mula-mula mereka mendarat di Batam. Lalu mereka membakar kapalnya, agar tak lagi bisa diusir keluar. Cerdik!

Hingga akhirnya, dipinjamkannya Pulau Galang secara resmi untuk menampung pengungsi yang jumlahnya ratusan ribu itu.

Namun, tampaknya hal ini juga tidak mungkin. Karena masyarakat internasional juga tahu, betapa sulitnya karakter orang Rohingnya. Jika mereka “acceptable”, tentu Bangladesh sebagai induk semangnya maupun Myanmar sebagai tempat numpangnya tidak bereaksi sekeras sekarang.

Ketiga, Pemerintah didesak memutuskan hubungan diplomatik dengan Myanmar.

Nah, ini bukan saja statement yang lugu (maksudnya “lu guoblog” banget), tapi juga out of context. Realitasnya Indonesia adalah satu-satunya negara yang dipercaya oleh pemerintah Myanmar dan memiliki akses langsung kepada pengungsi Rohingnya¬†karena ikatan sejarah baik sejak jamannya U Nu dan Sukarno bergandengan tangan menggagas Gerakan Non Blok dan Konferensi Asia Afrika.

Baca Juga:  Jakob Oetama, Nama Yang Melegenda dalam Dunia Jurnalistik dan Media

Tampaknya tak ada hubungan yang lebih tulus antarnegara, kecuali Indonesia-Myanmar. Bahkan tanpa banyak gembar-gembor, Pemerintahan Jokowi sudah memberikan bantuan maksimal dengan secara kontinyu mengirim bantuan pangan dan obat-obatan. Bahkan membangun sekolah dan dalam waktu dekat ini rumah sakit di Rakhine. Indonesia bahkan diutus oleh PBB sebagai agen untuk menyalurkan bantuan Internasional untuk saudara kita di Rohingnya. Hal ini karena memang Pemerintah Myammar menutup semua akses internasional untuk Rohingnya.

Sikap keempat, dan ini juga sikap saya pribadi. Lebih mempercayakan apa yang sudah dilakukan Pemerintah Jokowi.

Umumnya, kelompok ini menyadari tidak mudahnya memahami karakter persoalan orang Rohingnya. Khususnya secara geopolitik dan rasis. Apalagi saat ini, mereka sudah disusupi para ekstremis dan teroris internasional yang membawa-bawa nama agama!

Mereka inilah yang memancing permusuhan dengan menyerang pos polisi dan tentara Myanmar. Sehingga justru menimbulkan reaksi yang pada gilirannya menghancurkan kehidupan saudara-saudara Rohingnya yang tak bersalah dan apolitis, yang sudah “kapiran” makin menderita. Sehingga menimbulkan gelombang pengungsian, yang lucunya justru diterapkan “kuota”, pembatasan oleh saudara dekatnya sendiri di Bangladesh.

Saya mendukung sikap Menteri Luar Negeri Retno Marsudi yang tetap tenang dan dingin menyikapi situasi Rohingnya, maupun justru reaksi berlebihan yang muncul dari dalam negeri.

Retno Marsudi (Foto: Tempo.co)
Retno Marsudi (Foto: Tempo.co)

Terakhir, saya cuma mengingatkan untuk tidak mudah menggunakan kata “genocida”, bahwa ada korban jiwa iya. Karena saya yakin saudara-saudara Buddha kita di Myanmar tidak sekeji itu. Saya masih yakin orang Buddhis adalah golongan paling welas asih.

Bahwa reaksi sebagian dari mereka berlebihan, itu bukan karena ajaran agamanya tapi lebih pada sikap politik sebagian sangat kecil manusianya. Jangan bandingkan genocida di Indo China pada masa Perang Dingin atau malah pembersihan PKI di negeri sendiri yang selalu disembunyikan itu.

Baca Juga:  Apple iPhone 7 Menari-nari di Atas "Bangkai" Samsung Galaxy Note 7

Peduli itu baik dan mulia, tapi bereaksi berlebihan itu hanya menunjukkan kurang piknik, salah milih pergaulan, dan kurang bahan baca.

***