Wacana

Jika Mati, Pilih Hapus Akun Medsosmu atau Membiarkannya Hidup?

Filsafat, Kematian, RIP, Media Sosial, Akun, Headline, Media
Tanpa disadari, media sosial khususnya Facebook sudah menjadi kuburan karena ditinggal mati pemilik akunnya. Apakah ini sudah jadi persoalan di dunia maya?

Melalui fitur unik “Ask to Answer” di web platform berbagi pengetahuan Selasar.com, kuterima sebuah pertanyaan dari seorang teman yang menantang untuk dijawab. Sebuah  pertanyaan pengandaian; jika mati, pilih hapus akun medsosmu atau membiarkannya hidup?

Jujur, agak menggelitik juga pertanyaan ini. Sebab, bagaimana mungkin orang mati bisa menentukan sikap, apalagi bisa menghaspus akunnya. Maksudnya, mungkin seseorang berwasiat kepada keluarga atau kerabat dekatnya untuk tetap membiarkan akunnya hidup atau menghapusnya dengan cara memberi tahu username dan password-nya.

Sebelum kujawab pertanyaan ini lebih jauh, baiknya kau sepakati terlebih dahulu bahwa hidup dan mati adalah keniscayaan. Aku hidup atau mati, kau pun demikian, tidak atas keinginanku atau kemauanmu. Ada Allah, Tuhan Yang Kuasa dalam keyakinanku, yang mengatur itu semua, kalau kau percaya itu. Bagiku, urusan aku dilahirkan kemudian hidup, adalah kehendak-Nya. Mati pun demikian. Setiap makhluk hidup akan berakhir dengan kematian, bukan?

Dalam keyakinan yang kuanut, terkait apa yang disebut Fardu Kifayah, mati adalah urusan orang hidup. Islam, agama yang kupegang, telah sedemikian mulia mengatur orang hidup bahkan saat orang itu mati. Tidak terbantahkan. Coba bayangkan jika tidak ada Fardu Kifayah yang mengatur orang mati? Boleh jadi, banyak bangkai manusia berserakan di jalanan yang menjadi hidangan binatang buas berpesta-pora.

Terkait kematian, apakah aku akan menutup media sosial seperti Facebook, Twitter, Google atau weblog pribadi sebagaimana kautanyakan? Bagiku, kalau sudah mati, ya mati sajalah, meninggalkan semua angan, rasa dan bahkan cinta. Bagiku, segenap cinta menguap dan hilang saat kematian datang. Bagaimana mungkin tatkala aku binasa meminta akunku diteruskan oleh anak-istri?

Akan kubiarkan apa adanya saja. Itu adalah prasasti digital di mana kelak semua orang boleh membaca prasasti yang tertulis di nisan digitalku itu. Tak terpikir olehku membuat wasiat-wasiatan untuk sebuah akun medsos yang pernah kugunakan.

Tetapi kalau keluarga terdekatku, anak-anak dan istri, menyatakan semua akun medsosku akan mereka tutup, aku tak bisa mencegahnya, bukan?

Baca Juga:  Membela Aksi Bela Islam

Memang, Facebook sepengetahuanku memiliki fitur yang menyilakan orang lain (keluarga terdekat dalam hal ini) mengelola dan meneruskan akun. Tetapi itu akan sia-sia, hanya akan menambah luka orang-orang yang kutinggalkan. Tidak akan ada lagi pikiranku di sana, ideku, guyonanku, kritikanku yang kadang bikin orang tersakiti (kalau baper), tetapi tidak sedikit yang cekikikan (meski harus dalam hati), jika kumati nanti.

Alhasil, biarkan sajalah media sosial yang kumiliki seperti apa adanya!

Kau bisa melihat pekuburan di mana ribuan orang ditanam di sana, dari generasi ke generasi lainnya. Ada kuburan yang dirawat dengan baik, bersih, dan asri. Itulah pertanda orang-orang terkasih masih merawatnya, sekadar mengenang jasa-jasa si mati semasa dia hidup. Itu karena cinta. Tetapi, adakalanya kau mungkin melihat kuburan yang batu nisannya sudah kusam, penuh rumput dan ilalang. Tertutupi dedaunan kering. Kesepian. Terlihat seperti merana. Ibarat pohon, meranggas.

Seperti gambaran itulah “kuburan medsos” jika kelak aku mati. Ia mungkin sekadar prasasti di mana orang boleh bolak-balik melihat isinya, syukur kalau keluarga dan orang-orang terdekatku masih mengingatku. Ada banyak hal yang kuwariskan melalui medsos, khususnya pikiran dan ide-ide dalam bidang yang kukuasai dan kusukai.

Di facebook, ada beberapa fanpage yang kubuat seperti “Nulis bareng Pepih“, ada grup Dari Kompasiana hingga Selasar (kubuat 8 tahun lalu bersamaan dengan lahirnya Kompasiana), juga tentu saja ada akun Facebook pribadiku. Belum lagi di blog pribadiku seperti PepNewsBeranda T4 Berbagi, Selasar, dan lain-lain. Itu semua akan kutinggalkan tatkala ajal menjemputku pada waktunya. Tidak mengapa semua itu menjadi kusam dan berdebu, setidak-tidaknya orang-orang masih sudi membaca prasasti yang tertulis di nisannya.

Baca Juga:  Pernikahan Dini Sandiaga-Mardani Terancam Berakhir Sampai di Sini

Uniknya, lima tahun lalu atau tahun 2012, aku iseng-iseng membuat fanpagedi Facebook bernama “Rest In Peace“. Mengapa kubuat fanpage“menyeramkan” semacam itu? Tidak lain karena terdorong dari kematian secara alamiah para Facebookers yang merupakan teman-temanku dan aku ingin “menguburkan” mereka di “Kuburan” Rest In Peace itu, setidak-tidaknya keluarga terdekatnya (si hidup) bisa memberitahu dan kematian orang-orang terdekatnya di fanpage di sana, sekaligus menerakan Akun Mendiang.

Pada saat itu pula bahkan aku pernah mengutarakan ide kepada mas Wicak Hidayat yang baru bergabung ke KompasTekno untuk membuat aplikasi (apps) tentang orang-orang mati di media sosial, khususnya facebook. Ide yang sampai sekarang belum terwujud!

Kau mungkin ingin tahu berapa banyak akun fanpage “Rest In Peace” yang kubuat lima tahun lalu itu di-“like” orang? Hanya 15 likes, itu pun salah satunya aku sebagai pembuat laman, 14 orang lagi mungkin orang yang sedang mabuk saat mencentang “like” di “Kuburan Facebook”-ku itu. Atau, jangan-jangan mereka tidak tahu apa makna “Requiescat in Pace” yang sebenarnya dalam bahasa Latin itu.

Kau pahamlah, mana ada orang yang menyukai kematian, bukan?

Bahwa ada orang-orang yang menyukai kematian dengan cara melakukan bom bunuh diri untuk membunuh orang lain dengan iming-iming 72 bidadari di surga, itu tidak terkait dengan pertanyaanmu, bukan?

Pun bagiku, sia-sia membahas persoalan yang satu ini.

***